RSS

Jumat, 23 November 2012

MAKALAH MANAJEMEN TERNAK UNGGAS



PROBLEM SOLVING

MANAJEMEN TERNAK UNGGAS
KUALITAS KARKAS RENDAH







OLEH:
KELOMPOK 7 B
1.  NUR FITRIYANI                       DIE010155
2.  MUH. TRIYADI HERBOWO      DIE010156
3.  AJAT SUDRAJAT                    DIE010157
4.  NIKO ADE SURYA                   DIE010158
5.  FEBRI DWI R.                          DIE010159
6.  RIDHO TRI P.                          DIE010162
7.  KUSPRIYADI                           DIE010163
8.  GESIT WICAKSONO               DIE010164
9.  ERLINDANI S.M.                      DIE010165
10.AJIE PAMUKTI                    DIE010166
11.ARIESTA DWI A.                 DIE010167
12.AGUS SUBARKAH               DIE010139




LABORATORIUM PRODUKSI TERNAK UNGGAS
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
2012
PRAKATA
 Pujisyukurpenulispanjatkankehadirat Allah SWT yang telahmemberikanrahmatdanhidayah-Nyasehinggamakalahinidapatterselesaikansesuairencana.MakalahinimerupakansalahsatutugasterstrukturpadamatakuliahManajemenTernakUnggas.Makalahinimembahastentangpermasalahan-permasalahan yang terjadi di peternakanunggaskhususnyaayamniagapedaging yang berpengaruhpadakualitaskarkas.
            Penulismengucapkanterimakasih yang sebesar-besarnyakepadadosenpengampumatakuliahManajemenTernakUnggaskhususnya Ir. Roesdijanto, MS yang telahmemberikan saran danmasukanuntukmenjadikanmakalahinilebihbaik.Jugarekan-rekan kelas B angkatan 2010 yang telahmemberikanbantuandandukunganatasterselesaikannyamakalahini.Penulismenyadaribetulbahwamakalahinimasihjauhdarisempurnasehinggapenulismembukapintuselebar-lebarnyauntukkritikdan saran yang membangun agar kedepannyamenjadilebihbaik.


Purwokerto, Oktober 2012


Penulis












DAFTAR ISI
Prakata …………………………….……………………………………………………  i
Daftar Isi ………………………….…………………………………………...............   ii
I.       Pendahuluan ……………………………………………………………………..   1
1.1   LatarBelakang ………………………………………………………………   1
1.2   Tujuan ………………………………………………………………………   2
II.      Permasalahan ……………………………………………………………………  3
III.    PemecahanMasalah ……………………………………………………………   9
IV.    Kesimpulan ………………………………………………………………………. 22
DaftarPustaka ……………………………………………………………………….. 23
Lampiran ………………………………………………………………………………. 24
 


I.       PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun berdampak pada peningkatan konsumsi produk peternakan (daging, telur, susu). Meningkatnya kesejahteraan dan tingkat kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi khususnya protein hewani juga turut meningkatkan angka perminataan produk peternakan. Daging banyak dimanfaatkan olehmasyarakat karena mempunyai rasayang enak dan kandungan zat gizi yangtinggi.Salah satu sumber daging yangpaling banyak dimanfaatkan olehmasyarakat Indonesia adalah ayam.Daging ayam yang sering dikonsumsi oleh masyarakat diperoleh dari pemotongan ayam broiler, petelur afkir, dan ayam kampung.
Ayam broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar protein hewani asal ternak dan merupakan komoditas unggulan.Industri ayam broiler berkembang pesat karena daging ayam menjadi sumber utama menu konsumen.Daging ayam broiler mudah didapatkan baik di pasar modern maupun tradisional.Produksi daging ayam broiler lebih besar dilakukan oleh rumah potong ayam modern dan tradisional.Proses penanganan di RPA merupakan kunci yang menentukan kelayakan daging untuk dikonsumsi. Perusahaan rumah potong ayam (RPA) atau tempat pendistribusian umumnya sudah memiliki sarana penyimpanan yang memadai, namun tidak dapat dihindari adanyakontaminasi dan kerusakan selama prosesing dan distribusi.
Mengingat tingginya kewaspadaan masyarakat terhadap keamanan pangan, menuntut produsen bahan pangan termasuk pengusaha peternakan untuk meningkatkan kualitas produknya.Walaupun kualitas karkas tergantung pada preferensi konsumen namun ada standar khusus yang dijadikan acuan.Karkas yang layak konsumsi harus sesuai dengan standar SNI mulai dari cara penanganan, cara pemotongan karkas, ukuran dan mutu, persyaratan yang meliputi bahan asal, penyiapan karkas, penglolahan pascapanen, bahan pembantu, bahan tambahan, mutu produk akhir hingga pengemasan.Untuk itu perlu ada penerapan manajemen yang baik sejak masih di sektor hulu sampai ke sektor hilir.

1.2   Tujuan

Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang terjadi di peternakan ayam niaga pedaging, rumah potong ayam dan pasar yang berkaitan dengan rendahnya kualitas karkas ayam niaga pedaging serta mencari solusi pemecahannya.





























II.   PERMASALAHAN
Sekarang ini masyarakat lebih cenderung memilih karkas dengan kualitas yang baik untuk mendapatkan bahan pangan yang sehat.Walaupun demikian, definisi kualitas karkas baik sulit ditentukan secara objektif karena tergantung pada preferensi konsumen sendiri.Namun paling tidak ada standar yang dapat dijadikan acuan untuk menentukan karkas yang baik dan sehat.Indikator dari kualitas karkas dapat diketahui dari bentuk, warna, aroma, dan tekstur karkas. Oleh karena itu, SNI telah mengeluarkan standar mutu

Persyaratan Tingkatan Mutu Fisik Karkas
No
Faktor Mutu
Tingkatan Mutu
Mutu I
Mutu II
Mutu III
1.
Konformasi
Sempurna
Ada sedikit kelainan pada tulang dada atau paha
Ada kelainan
pada tulang dada
dan paha
2.
Perdagingan
Tebal
Sedang
Sedikit
3.
Perlemakan
Banyak
Banyak
Sedikit
4.
Keutuhan
Utuh
Tulang utuh, kulit robek sedikit, tetapi tidak pada bagian dada
Tulang ada yang patah, ujung sayap terlepas ada kulit yang robek ada bagian dada
5.
Perubahan warna
Bebas dari memar dan atau “freeze burn”
Ada memar sedikit   tetapi tidak pada bagian dada dan tidak “freeze burn”
Ada memar sedikit tetapi tidak ada “freeze burn”
6.
Kebersihan
Bebas dari bulu tunas (pin feather)
Ada bulu tunas yang menyebar tetapi tidak pada bagian dada
Ada bulu tunas
(SNI, 2009)

Syarat Mutu Mikrobiologis Karkas
No
Jenis
Satuan
Persyaratan
1
2
3
4
5
6
Total Plate Count
Coliform
Staphylococcus aureus
Salmonella sp
Escherichia coli
Campylobacter sp
cfu/g
cfu /g
cfu/g
per 25 g
cfu/g
per 25 g
maksimum 1 x 106
maksimum 1 x 102
maksimum 1 x 102
negatif
maksimum 1 x 101
negatif
(SNI, 2009)
Fletcher dan Carpenter (1993) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas karkas, diantaranya genetik, pakan, umur, jenis kelamin dan manajemen.Secara umum, permasalahan yang muncul berkaitan dengan rendahnya kualitas karkas ayam disebabkan karena manajemen pra panen dan perlakuan pasca panen yang kurang baik.Soeparno (1998) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas karkas yaitu faktor sebelum pemotongan dan sesudah pemotongan.Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara lain genetik, spesies, bangsa, tipe ternak, jenis kelamin, umur, pakan termasuk bahan aditif (hormon, antibiotik atau mineral), dan stress. Faktor setelah pemotongan yang mempengaruhi kualitas daging antara lain meliputi metode pelayuan, stimulasi listrik, metode pemasakan, pH karkas dan daging, bahan tambahan termasuk enzim pengempuk daging, hormon dan antibiotik, lemak intramuskuler atau marbling, metode penyimpanan dan preservasi, macam otot daging dan lokasi pada suatu otot daging.
Beberapa permasalahan yang menyebabkan rendahnya kualitas karkas ayam yang berkaitan dengan pelaksanaan manajemen adalah sebagai berikut.

2.1  Permasalahan Pra-Panen
a.      Manajemen Perkandangan
Manajemen perkandangan terdiri atas jenis kandang, atap dan lantai.Pengaruh sistem kandang berkaitan dengan keamanan tehadap penyakit.Kandang tertutup cenderung lebih aman dari gangguan penyakit dibandingkan dengan kandang terbuka.Penyakit yang timbul akan mengganggu produksi baik kualitas maupun kuantitasnya termasuk didalamnya adalah karkas. Namun untuk membangun kandang tertutup (close house) membutuhkan biaya yang besar sehingga peternak rakyat yang memiliki biaya terbatas tidak punya pilihan untuk membangun kandang tertutup.Oleh karena itu peternak rakyat baik mandiri maupun kemitraan lebih banyak membangun kandang tipe terbuka.Pemeliharaan dalam kandang terbuka melahirkan konsekuensi pada manajemen sanitasi dan kesehatan yang lebih intens untuk mengontrol penyebaran penyakit.
Selain jenis kandang, yang termasuk dalam menajemen perkandangan adalah tipe atap.Tipe atap berpengaruh secara tidak langsung pada kualitas kerkas yang dihasilkan. Tipe atap yang mampu memberikan sirkulasi udara yang baikakan membuat kondisi dalam kandang menjadi lebih nyaman bagi ayam. Kondisi nyaman ini berkaitan dengan temperatur dan kelembaban udara.Temperatur dan kelembaban adalah dua hal yang menjadi momok bagi peternakan di daerah tropis.Temperatur tinggi menyebabkan ternak mudah mengalami heat stress, ditambah lagi dengan kelembaban yang tinggi menjadi lingkungan ideal bagi perkembangan bibit penyakit.Kebanyakan peternak rakyat yang memiliki kandang tipe terbuka lebih banyak membuat atapnya dengan tipe gable.Tipe gable cenderung sulit untuk mengalirkan udara yang masuk dan keluar kandang.Hal ini menyebabkan pertukaran udara kotor dari dalam kandang dan udara bersih dari luar sulit terjadi. Jenis atap yang mampu memberikan sirkulasi udara yang baik adalah tipe monitor, namun pembuatan atap tipe ini tidak sederhana dan membutuhkan teknik dan pengetahuan khusus.
Kondisi lantai juga sangat berpengaruh terhadapkualitas karkas.Kondisi lantai yang rusak dapat menyebabkan ayam terperosok sehingga kejadian memar dan lebam pada ayam akan meningkat. Kejadian ayam terperosok akan banyak terjadi pada lantai slat dan wire, sedangkan pada lantai litter jarang terjadi. Namun begitu, tetap ada segi positif dari lantai berlubang ini, diantaranya adalah lebih bersih, sirkulasi udara lebih terjamin sehingga suplai O2 ke dalam kandang dan pembuangan CO2 dan NH3 lebih lancar.Lantai rapat (litter) memiliki beberapa keuntungan yaitu rendahnya kejadian ayam terperosok sehingga penurunan kualitas karkas nantinya dapat dikontrol.Selain itu keadaan kandang lebih hangat dan pengolahannya lebih mudah.Namun disamping itu ada beberapa kerugian dari lantai litter yaitu, terjadinya fermentasi litter yang menghasilkan gas metan dan ammonia sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku yaitu timbulnya sifat agresif (Duncan dan Wood-Gush, 1971). Permasalahan-permasalahan ini nantinya akan mempengaruhi kualitas dari karkas yang dihasilkan.




b.      Manajemen Pakan
Pakan dengan kualitas dibawah standar, terutama untuk pakan grower dan finisher dapat berpengaruh terhadap kualitas karkas dari ayam broiler.Penambahan lemak baik asal nabati maupun hewani untuk tujuan meningkatkan kandungan energi metabolis dalam sediaan pakan dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kandungan lemak tubuh.Adanya efek positif dari digestibility terhadap lemak jenuh dan tak jenuh, yang mana kedua-duanya ditambahkan kedalam sediaan pakan dan terlebih lagi karena didukung ketidakseimbangan antara protein dengan energi dalam sediaan pakan dapat memicu terjadinya penimbunan lemak yang berlebihan dalam jaringan tubuh.Penambahan jenis lemak tidak jenuh dalam pakan grower dan finisher menyebabkan karkas yang diproduksi Nampak berminyak. Dengan demikian, tanpa adanya perlakuan khusus (cool storage), waktu penyimpanan karkas menjadi lebih singkat yang kemungkinan disebabkan karena terjadinya proses oksidasi dan ketengikan karkas tersebut.

c.      Manajemen Kesehatan
Usaha peternakan ayam niaga, baik ayam niaga petelur maupun pedaging tidak pernah lepas dari manajemen kesehatan.Kesehatan ternak sangat mempengaruhi produksi baik secara kuantitas maupun kualitas.Pelaksanaan biosekuriti yang kurang baik menjadi salah satu penyumbang penyebaran penyakit dalam suatu peternakan.Peternakan rakyat umumnya kurang memperhatikan biosekuriti.Walaupun sanitasi kandang sudah diterapkan ditingkat peternakan rakyat, namun faktor lainnya seperti lalu-lintas manusia, hewan liar dan kendaraan yang keluar masuk kandang belum terlalu diperhatikan.
Tak dipungkiri, adanya rekayasa genetik baik pada ayam pedaging maupun petelur, selain berdampak positif karena produksi yang lebih cepat dan tinggi ternyata memiliki dampak negatif.Pertumbuhan berat badan yang cepat tidak diimbangi dengan pertumbuhan organ dalam seperti jantung sehingga organ tersebut harus bekerja ekstra keras.Selain itu, pertumbuhan bulu pun semakin diperlambat demi efisiensi alokasi pakan guna mendapatkan karkas yang jauh lebih besar.Tak heran, sedikit gangguan/kondisi yang tidak nyaman mampu “mengobrak-abrik” sistem pertahanan tubuh ayam.Alhasil ayam pun mudah terinfeksi oleh bibit penyakit yang ada di lingkungan.Disadari atau tidak, hampir setiap saat ayam selalu kontak dengan bibit penyakit yang ada di lingkungan.
Fakta yang ada, bibit penyakit akan selalu berusaha menginfeksi ayam, namun ayam akan selalu berusaha mengeliminasi bibit penyakit. Layaknya pertahanan negara, di dalam tubuh ayam pun juga dilengkapi tentara-tentara penghalau musuh/bibit penyakit yang menginfeksi.Dengan demikian, untuk mampu menimbulkan sakit, agen bibit penyakit harus mampu melewati sederetan sistem pertahanan tersebut.



2.2  Permasalahan Pasca-Panen
a.      Manajemen Transportasi
Kondisi peredaran ayam telah menimbulkan permasalahankesehatan lingkungan yang sangat serius. Proses pengangkutan dalam truk terbukadapat menebarkan bakteri dan virus penyebab berbagai penyakit di sepanjang jalanyang dilalui oleh unggas tersebut hingga ke tempat penampungan. Selain itu, kondisitempat pemotongan ayam yang berada di rumah-rumah penduduk serta dekatdengan pemukiman penduduk menimbulkan berbagai permasalahan pencemaran lingkungan dan memperburuk masalah sanitasi di pemukiman. Kondisi tersebut juga tidak baik untuk ayam potong yang dihasilkan karena selama proses pemotongan, pembersihan dan pengepakan ayam dilakukan dalam satu tempat, sehingga rawan terjadi kontaminasi dari berbagai sumber penyakit.
b.    Manajemen Pemotongan
Salah satu permasalahan yang paling penting dalam proses produksi karkas adalah permasalahan kelayakan Rumah Pemotongan Ayam (RPA). Bahkan RPA merupakan penentu dari proses panjang perjalanan produk peternakan ayam. Meskipun ayam tersebut dinyatakan sehat dari peternakan (farm), jika ditingkat RPA (hilir) pemotongannya tidak memenuhi kriteria pemotongan yang baik maka kecenderungan menimbulkan penyakit akan semakin besar.RPA tradisional dalam pelaksanaannya relatif kurang memperhatikanpersyaratan teknis higiene dan sanitasi. RPA tradisional relatif tidak mempunyaipembagian daerah kerja sehingga proses pengolahan dilakukan dalam suatu ruanganyang menyatu, RPA tersebut terletak di pasar-pasar tradisional.
Sanitasi pada rumah potong ayam adalah sesuatu yang paling diperhatikan mulai dari pemotongan, karena sanitasi yang baik akan meperkecil kontamianan. Sanitasi yang ada ditemukan adalah dalam kondisi yang kurang baik, dimana kandang yang kurang bersih dan eksreta juga terlihat numpuk dan air yang tergenang, lantai kandang, tempat pemotongan karkas serta kebersihan petugas dalam penanganan ayam.Lantai kandang walaupun terlihat bersih tapi tetap saja rawan terkontaminasi. Penanganan dari pekerja juga harus bersih untuk memastikan tidak terkontaminasi dalam penanganan.
c.    Manajemen Pengolahan
Sebagian besar peternakan rakyat (60 – 70 %) menjual ayam broiler dalam bentuk hidup, dimana pedagang pengecer mengolah ayam tersebut menjadi karkas ayam siap dijual pada konsumen. Proses pengolahan ayam hidup menjadi karkas ayam segar, mulai dari penyembelihan, pencabutan bulu, pengeluaran jeroan, pencucian, pengemasan, pendinginan dan pengangkutan belum sesuai dengan norma dan kaidah kesehatan. Sama halnya dengan proses pemotongan, proses pengolahan karkas juga memiliki faktor resiko terhadap bahaya mikrobiologis di setiap tahapannya.  Keberadaan bakteri Salmonella dan Campylobacter sangat sulit untuk dieliminasi pada saat proses pengolahan karkas di rumah pemotongan ayam. Selain bahaya biologis, bahaya kimiawi juga menjadi ancaman karena banyak reaksi-reaksi kimia yang terjadi selama pengolahan karkas yang pada akhirnya berpengaruh terhadap nilai gizi, keamanan dan penerimaannya. Tidak hanya proses kimia secara alami, penambahan bahan-bahan kimia berbahaya seperti boraks dan formalin juga sering terjadi di industri pengolahan daging.Oleh karena itu mutu dan keamanan pangan karkas ayam menjadi rendah, bahkan tingkat kehalalnnya masih diragukan sehingga harganya turun dan peluang pasarnya rendah.
III.    PEMECAHAN MASALAH
3.1 Manajemen Pra-Panen
3.1.1 Manajemen Perkandangan
Bentuk kandang yang disarankan untuk meminimalisir munculnya penyakit adalah kandang close house, namun untuk membangunnya memerlukan biaya yang relatif mahal. Oleh karena itu, untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan membangun kandang terbuka yang memiliki panggung.Kandang panggung memungkinkan adanya pemisahan feces dengan kandang sehingga kebersihan ternak dan alas kandang dapat dijaga.Selain itu sirkulasi udara dalam kandang menjadi lebih baik.
Tinggi kandang menyesuaikan dengan besar dan luasnya kandang. Namun sebagai perbandingan, untuk iklim tropis seperti di Indonesia, kandang ayam broiler dibuat dengan ketinggian dari lantai hingga atap teratas sekitar 6-7 meter, dan dari lantai hingga atap terendah sekitar 3,5 hingga 4 meter. Untuk kandang yang dibuat dengan sistem panggung, maka tinggi kandang akan lebih tinggi sekitar 1 hingga 1,5 meter pula. Untuk lebar kandang bisa menyesuaikan kebutuhan, namun agar tidak terlalu sumpek setidaknya dibuat dengan lebar minimal 6 meter dan maksimal 8 meter.Sedangkan panjang kandang, bisa menyesuaikan lahan yang tersedia.Tujuan dari penentuan ukuran kandang ini adalah untuk menciptakan temperatur dan kelembaban yang ideal bagi ternak.
Kandang harus dibuat dari bahan yang kuat, tahan lama, namun sebisa mungkin tetap menggunakan bahan yang harganya relatif murah.Untuk bagian tiangnya bisa memakai balok kayu seperti kayu gelugu (batang pohon kelapa).Untuk penyangga atapnya bisa dari bilah bambu atau lembaran kayu.Sedangkan untuk dindingnya bisa memakai anyaman bilah bambu atau kawat kasa.Untuk sekat-sekat kandangnya bisa memakai bilah bambu, lembaran seng, atau lembaran triplek.
Kandang lantai litter panggung keadaannya akan lebih nyaman dibandingkan kandang litter sekam di tanah karena gaya gesek udara pada lantai litter panggung lebih rendah. Keuntungan utama dari penggunaan alas litter ini adalah ayam lebih merasa nyaman karena terhindar dari lepuh pada bagian dada atau bagian lainnya lantaran bergesekan dengan lantai. Namun, kelemahan dari penggunaan alas litter ini adalah mudah dan cepat basah sehingga bisa menimbulkan bau yang tidak sedap atau tengik. Selain itu, alas litter yang basah juga bisa mengundang berbagai bibit penyakit seperti CRD/penyakit saluran pernapasan dan snot. Untuk itulah, peternak harus rajin mengganti bahan litter dengan yang masih segar bilamana sudah terlihat basah ataupun lembab.
Litter yang bagus harus memiliki daya serap yang tinggi, beratnya ringan, ukuran partikelnya sedang dan cepat mengering. Litter seharusnya yang lembut dan nyaman untuk ayam berjalan. Materi yang ada dari litter tersebut memiliki daya jual sebagai pupuk yang bagus. Litter yang bau atau bau pengap dan berdebu sebaiknya dibuang.
Litter yang ideal harus memiliki ukuran partikel yang seragam, tidak menggumpal dengan kandungan uap air 25-30% dan rendah level amonianya. Kondisi litter yang ideal dapat dipelihara dengan manajemen litter yang baik, termasuk memahami prinsip ventilasi dan temperatur, seperti halnya faktor penting lainnya yang menjadi bagian dari manajemen pemeliharaan ayam yang diperlukan agar ayam tetap sehat. Sebagian dari faktor tambahan lain, meliputi :
1)    Pastikan ventilasi cukup dan suhu kandang dapat dipertahankan agar kelembaban litter tetap pada 25- 30%. Level debu akan meningkat jika kelembaban litter menurun menjadi 20% atau kurang, sehingga menimbulkan permasalahan dengan kualitas udara. Jika kelembaban lebih dari 40% litter akan menjadi basah dan menggumpal. Ketika litter digenggam kemudian genggaman dilepaskan maka litter akan sedikit melekat dan perlahan akan buyar. Jika litter sangat lembab maka akan mudah dibentuk bulatan bola, sedangkan litter yang terlalu kering akan sulit dibentuk bulatan bola.
2)    Litter yang basah dan menggumpal harus seringkali diganti, terutama di area sekitar tempat pakan dan minum.
3)    Ganti dengan litter baru jika litter sudah terlalu basah.
4)    Ganti litter yang menggumpal tanpa menyebabkan banyak debu atau amonia.
5)    Lakukan kontrol terhadap tempat minum untuk mencegah kebocoran air. Manajemen tempat minum termasuk frekuensi pergantian tempat minum, tinggi tempat minum, kedalaman dan banyaknya tempat minum juga perlu diperhatikan.
6)    Litter dibawah tempat pakan dan minum harus sering dibolak balik agar litter tetap kering. Panas dan lembab litter dibawah tempat pakan dan minum merangsang pertumbuhan larva kumbang dan lalat.
7)    Jika mungkin simpan litter di area yang kering sebelum digunakan. Tempat yang ideal untuk penyimpanan litter adalah dengan kelembaban 20-25% sebelum ditebar di kandang. Untuk menjaga kualitas litter selama periode pemeliharaan maka perlu evaluasi tiap hari terhadap temperatur kandang, ventilasi, manajemen drinker dan fisik litter.
Atap kandang sebaiknya mempergunakan bahan-bahan yang tidak menhantarkan panas seperti genting, rumbia, ataupun anyaman daun kelapa.Paling disarankan adalah memakai atap dari genting karena tidak mudah bocor, tahan lama, daya refleksi terhadap panas matahari cukup bagus, dan tidak menjadi sarang tikus sebagaimana bila menggunakan atap dari daun kelapa.Namun, bila menggunakan atap dari bahan yang bisa menghantarkan panas seperti seng, maka di bawahnya dilapisi dengan bahan-bahan yang bisa menyerap panas seperti bambu atau kayu.Atap ditata dengan kemiringan tertentu agar suhu kandang tidak terlalu panas.Selain itu, bentuk atap bisa dibuat ganda dengan lubang angin yang disebut dengan sistem monitor dengan tujuan agar pertukaran udara di dalam kandang lebih terjaga.Namun, bisa juga dengan memakai sistem atap tunggal dengan lubang udara yang disebut sistem semimonitor.
Dinding kandang bisa dibuat sistem semiterbuak agar pertukaran udara dalam kandang bisa berjalan dengan baik sehingga bau kotoran atau pakan bis akeluar atau berganti dengan udara segar. Bahan yang dipergunakan untuk dinding kandang pada bagian bawah (dinding gedhek), sedangkan bagian atasnya dibuat dari potongan bambu yang dibelah atau dihaluskan, atau dengan menggunakan kawat ram.Bila menggunakan bilah bambu, jarak antara bilah satu dengan yang lain kira-kira selebar dua jari orang dewasa atau 5-6 cm, yang dipasang dalam posisi tegak berdiri.Dinding juga dilengkapi dengan tirai dari plastik atau kain, tujuannya agar bila sewaktu-waktu ada angin kencang atau hujan, tirai tersebut bisa bermanfaat sebagai pelindung.
3.1.2Manajemen Pakan
Penambahan asam linoleat dalam pakan dengan kandungan lemak cukup tinggi sangat membantu untuk mengurangi kandungan lemak karkas.Level maksimum dari kandungan asam linoleat adalah 25% dari kandungan lemak pada pakan ayam broiler grower dan finisher.Selain itu, penambahan protein sebanyak 1% akan mengurangi kandungan lemak dalam karkas sampai 0,5% dan mengurangi kandungan lemak perut (abdominal fat) antara 0,1 sampai 0,15% dan sebagai akibatnya dapat meningkatkan hasil karkas secara keseluruhan sebanyak 0,1 sampai 0,15%.

3.1.3ManajemenKesehatan
a.Kontrol lalu lintas
Biosekuritas ini secara umum memberlakukan kontrol tehadap lalu lintas orang, seperti mengunci pintu dan melarang semua pengunjung, atau mengizinkan masuk orang tertentu dan personil yang dibutuhkan (profesional) setelah mereka didesinfeksi, mandi semprot, lalu memakai sepatu khusus, baju penutup, dan topi khusus yang telah didesinfeksi. Tangan orang bisa juga menyebabkan infeksi dan harus didesinfeksi sebelum masuk bangunan kandang atau meninggalkannya. Pada peternakan yang harus menjalankan biosekuritas dengan ketat (Grand parent stock) akan menerapkan prosedur dengan sangat ketat misalnya tamu yang akan masuk sebelumnya tidak boleh mengunjungi farm pada level dibawahnya (Parent stock, komersial, prosesing dll) paling sedikit tiga hari setelah kunjungan tersebut.
Kontrol lalu lintas tidak hanya berlaku untuk orang tetapi juga untuk hewan seperti burung-burung liar , tikus, kumbang predator, serangga dan lainnya. Kucing dan anjing seringkali dianggap sebagai pembawa penyakit yang potensial, tetapi bukti-bukti kurang mendukung, dan manfaatnya dalam mengendalikan tikus cukup nyata dibandingkan kerugian yang ditimbulkannya.Konstruksi bangunan yang terbuka sebaiknya diberi kawat pelindung untuk mencegah masuknya serangga terbang atau predator, meskipun tidak efektif paling tidak dapat mengurangi resiko.
Kebersihan halaman dan teras dinding serta pemotongan rumput harus teratur.Konstruksi kandang dan ruang penyimpan pakan dibuat yang tidak memungkinkan binatang-binatang seperti tikus, burung, kumbang dan lainnya secara leluasa dapat memasukinya (rodent proof).Program pengendalian tikus dapat dibuat secara berkesinambungan, dengan menempatkan kotak pengumpan di pinggir kandang dengan selang 15-20 meter.Umpan tikus perlu dimonitor dalam jangka waktu tetrtentu misalnya setiap 5 hari sekali dengan umpan yang disukai tikus. Limbah kotoran ayam dan sekam basah, harus segera disingkirkan agar tidak mengundang lalat berkembang biak .Pada saat musim lalat dilakukan pengendalian baik dengan insektisida untuk membunuh lalat dewasa atau larva.
Lalu lintas kendaraan yang memasuki areal peternakan juga harus dimonitor secara ketat.Kendaraan yang memasuki farm harus melewati kolam desinfeksi yang terdapat di belakang gerbang.Kendaraan yang bisa masuk ke areal peternakan adalah kendaraan pengangkut makanan, doc, ataupun peralatan kandang lainnya.Pada peternakan pembibitan yang memerlukan biosekuritas lebih ketat, begitu masuk kolam desinfeksi kendaraan harus berhenti, lalu seluruh bagian mobil bagian bawah, sekitar ban disemprot desinfektan dengan sprayer tekanan tinggi.Sementara itu penumpangnya harus berjalan kaki lewat pintu khusus untuk lalu lintas orang. Di tempat ini ia harus mandi semprot untuk didesinfeksi. Di peternakan yang memerlukan biosekuritas sangat ketat terdapat pemisahan dan batas yang jelas mengenai daerah sanitasi kotor dengan atau daerah sanitasi semi bersih atau bersih. Dengan demikian akan selalu ada kontrol lalu lintas baik barang, bahan ataupun manusia.

b Vaksinasi
Aspek lain dari biosekuritas adalah mencegah penyakit melalui vaksinasi. Antibiotika digunakan untuk memberantas infeksi bakteri.Karena tidak ada obat yang dapat melawan infeksi virus, maka vaksinasi sebelum infeksi terjadi di dalam flok ayam menjadi pilihan utama untuk melindungi ayam.
Vaksin virus yang ideal terbuat dari suatu virus yang tidak menimbulkan penyakit, tetapi virus yang sangat tinggi imunogenesitasnya.Kombinasi ini agak jarang oleh karena itu virus-virus terpilih harus memberikan reaksi yang kecil sekali dan menyebabkan kekebalan yang tinggi.Perusahaan vaksin mempunyai kombinasi faktor-faktor yang terbaik terhadap virus yang ada sesuai dengan yang diharapkan.
Vaksin bisa dalam bentuk hidup atau mati.Keduanya memberikan reaksi.Vaksin hidup terdiri atas mikroorganisme hidup.Vaksin ini dapat diberikan pada umur lebih muda daripada vaksin mati, dan diberikan melalui injeksi, air minum, inhalasi, atau tetes mata.Kontaminasi vaksin harus dicegah karena dapat menimbulkan gangguan yang serius. Mikroagen yang terdapat dalam vaksin hidup akan berkembang di dalam tubuh unggas, dan bila terdapat infeksi sekunder pada saat itu, dapat terjadi reaksi yang hebat. Ketika menggunakan vaksin hidup, peternak harus menyadari bahwa peternakannya mengandung agen penyakit yang berasal dari vaksin.
Semua vaksin mati, yang pemberiannya harus disuntikkan, dapat juga menimbulkan reaksi yang berasal dari zat pembawanya.Reaksi yang paling umum adalah terjadinya pembentukan jendolan pada tempat penyuntikan (granuloma).Usia unggas pada saat vaksinasi terhadap penyakit tertentu dan kapan perlu diulang merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat, kualitas dan lamanya kekebalan. Yang penting diingat adalah vaksinlah sesuai dengan keperluan.

c. Pencatatan Riwayat Flok
Mencatat riwayat flok adalah cara yang mudah untuk menjaga kesehatan flok ayam. Ayam harus secara rutin diperiksa kesehatannya ke laboratorium, dengan mengecek titer darahnya terhadap penyakit tertentu, monitoring bakteriologis dan sampling lainnya.Laporan hasil pemeriksaan laboratorium harus disimpan bersamaan dengan data performans setiap flok atau kandang.Laporan ini sangat bermanfaat begitu masalah muncul.

d. Pencucian Kandang Ayam
Pencucian kandang ayam merupakan kegiatan biosekuritas yang paling berat.Segera setelah flok ayam diafkir dan liter diangkat keluar kandang, tindakan berikutnya adalah pembersihan dan desinfeksi terhadap seluruh kandang dan lingkungannya.Gumpalan liter harus diangkat dan sisa-sisa yang menempel harus disikat dan disemprot air.Peralatan seperti penggaruk, sekop, truk pengangkut, wadah-wadah pengankut kotoran (manure), dan lain-lain semuanya harus dibersihkan dan didesinfeksi setelah dipakai. Pencucian kandang ayam broiler bisa dilakukan secara total atau menyeluruh. Secara total artinya dilakukan terhadap seluruh kandang secara lengkap dari bagian atas sampai ke bawah. Hal ini dilakukan paling tidak setahun sekali.Pencucian bisa juga secara parsial biasanya dilakukan tidak menyeluruh, tetapi hanya bagian bawah (lantai) dan sekitarnya. Cara pencucian secara menyeluruh bisa dilakukan sebagai berikut:
1)    Angkat liter keluar dari kandang sejauh mungkin, atau paling tidak 100 yard. Usahakan liter tidak berceceran, tidak mencemari jalan atau pintu masuk kandang, dan tutuplah rapat-rapat.
2)    Sapulah dengan bersih dari atas sampai dasar kandang atau lantai, termasuk seluruh rangkaian kabel listrik, kipas angin, dan kisi-kisi jendela. Lepaskan lampu-lampu bohlam bersihkan dan ganti yang sudah putus dengan yang baru.
3)    Gosok, sikat dan bersihkan seluruh instalasi air, tempat makanan, dan peralatan lainnya. Keluarkan peralatan seperti brooder guard, tempat minum, tempat makan, dari kandang, lalu rendam, sikat, bersihkan dan desinfeksi sebelum dipakai lagi untuk flok ayam berikutnya.
4)    Seluruh atap, korden, dinding, partisi, tempat makan dan minum, dan peralatan lainnya, setelah dibersihkan debunya, disomprot dengan air sabun, dibilas, lalu didesinfeksi dengan menggunakan desinfektan yang kuat dan larut dalam air seperti senyawa fenol dengan konsentrasi sesuai aturan yang terdapat pada label. Peningkatan konsentrasi desinfektan tidak akan menutupi pekerjaan pencucian yang tidak sempurna. Penyemprotan dilakukan pada tekanan minimum 200 psi (pounds per square inch) agar penetrasi berlangsung baik. Hati-hati jangan sampai semprotan mengenai bagian dalam motor listrik, oleh karena itu harus diselubungi dahulu sebelum disemprot, setelah selesai buka kembali, atau bisa juga dilepas dahulu motornya. Penyemprotan dilakukan dari belakang dan bekerja mulai dari atap bangunan pertama kali, lalu dinding dan terakhir lantai. Bagian luar kandang seperti teras, saluran air, kawat, atap dan halaman juga diperlakukan sama. Jika pencucian telah selesai, perbaikan pada bagian-bagian kandang yang rusak dapat dilakukan.
5)    Setelah lantai kering dan bersih maka liter baru dan peralatan kandang untuk DOC yang baru dapat dipasang dan disebar merata. Liter umumnya berupa sekam atau tatal dengan ketebalan 10 cm (minimal 8cm).
6)    Gunakan insektisida yang sesuai pada bagian atas liter baru bila terdapat masalah serangga. Bila terdapat banyak kumbang (Alphitobius spp), maka semprotlah dindingnya dengan insektisida.
7)    Sediakan bak dekontaminasi sepatu di depan pintu masuk kandang. Sediakan pula baskom dekontaminasi untuk mencuci kandang. Gunakan desinfektan sesuai anjuran pabriknya. Desinfektan merupakan racun, dan pemakaian sesuai dengan aturan yang dianjurkan dalam label dapat menjamin terbunuhnya patogen yang ingin dibasmi. Bila desinfektan tidak dipakai dalam proporsi yang dianjurkan seperti pada label, maka orang, ternak ayam, dan mahluk hidup lainnya dapat turut teracuni.

e.Kontrol terhadap pakan
Biosekuritas terhadap pakan harus dilakukan terutama ditingkat pabrik pengolahan.Hal ini harus secara ketat dilakukan mengingat banyaknya agen penyakit dan toksin yang dapat mencemari makanan. Upaya yang harus dilakukan untuk mengamankan pakan ayam adalah:
1)   Menghilangkan atau mengurangi dampak resiko terjadinya kesalahan formulasi pakan seperi kelebihan garam dan lain-lain.
2)   Melakukan pengawasan atas kualitas bahan baku secara teratur, seperti kadar air, kadar aflatoksin, uji ketengikan, sampling terhadap kandungan mikroorganisme, dan analisis proksimat untk mengetahui kualitas kandungan pakan.
3)   Memenuhi permintaan konsumen misalnya konsumen dari breeding farm biasanya minta persayaratan pakan tertentu untuk mencegah terjadinya salmonellosis. Pakan yang diinginkan melalui perlakuan panas (pada suhu 65-90°C) dan penambahan vitamin, crumbelling/pelleting, dan penambahan acidifier (asam format, asam laktat, asam proprionant, asam butirat, atau asam sitrat).
4)   Melakukan upaya pencegahan berkembangnya toksin jamur dengan menambahkan toxin binder.
5)   Melakukan sanitasi truk pengangkut pakan, baik sebelum berangkat maupun setibanya di farm konsumen.
6)   Memperhatikan lama penyimpanan bahan baku ataupun penyimpanan pakan jadi.

f.Kontrol Air
Air merupakan sumber penularan penyakit yang utama selain melaui pakan dan udara. Berbagai penyakit yang ditularkan melaluiair antara lain Salmonellosis, Kolibasilosis, Aspergillosis dan Egg Drop Syndrome. Oleh karena itu monitoring untuk program biosekuritas air adalah:
1)    Melakukan pemeriksaan kualitas air minimal sekali dalam satu tahun yang meliputi pemeriksaan kimiawi (kesadahan, metal, mineral) dan bakteriologis.
2)    Melakukan pemeriksaan air secara kultur paling tidak sebulan sekali untuk menguji tingkat higienitas air minum ayam (kualitatif dan kuantitatif). Pengujian dilakukan secara berurutan dari hulu ke hilir, mulai dari sumber air sampai ketempat minum ayam (drinker).
3)    Perlakuan sanitasi air minum ayam diperlukan tergantung dari tingkat pencemarannya. Umunya sanitasi dilakukan dengan cara klorinasi, tetapi saat ini sudah banyak produk komersial lain seperti pemberian asam organik.
4)    Secara teratur melakukan flushing (penggelontoran) air di instalasi air di dalam kandang minimal seminggu sekali. Perlakuan ini dilakukan mengingat seringnya peternak memberikan vitamin, mineral ataupun antibiotik melalui air minum. Munculnya jonjot (semacam lendir) organik pada pipa-pipa air minum dapat mengakibatkan tersumbatnya pipa-pipa saluran tersebut.

g.Kontrol limbah (sisa-sisa) produksi dan ayam mati
Dalam tatalaksana usaha peternakan ayam sisa-sisa produksi atau limbah sudah jelas akan dijumpai. Limbah ini harus dijauhkan dan dimusnahkan sejauh mungkin sari areal produksi.Bila mungkin harus ada petugas khusus yang mengambil sisa produksi ini secara teratur untuk dibuang atau dimusnahkan di luar areal produksi.Apabila tidak mungkin dibuang atau dimusnahkan di luar, maka harus dipilih di lokasi di dalam wilayah peternakan yang memungkinkan sisa-sisa produksi ini tidak mengganggu kegiatan produksi lainnya serta mencegah pencemaran lingkungan.
Liter basah atau liter yang sudah menggumpal segera mungkin diangkat dan diangkut ke tempat yang telah di sediakan.Ayam mati sesegera mungkin diambil dari kandang dan setelah dilakukan pemeriksaan bedah pasca mati maka secepatnya dibakar dan dibuang ke tempat lubang pembuangan (disposal pit) di dalam peternakan.


3.2 Permasalahan Pasca Panen
3.2.1 Manajemen Transportasi
Pada umumnya lokasi produksi karkas ayam jauh dari konsumen dengan jarak tertentu. Jarak dan waktu tempuh akan memberikan koknsekuensi terhadap perubahan sifat fisik, kimia dan mikrobiologis sebagai suatu indikator mutu dan keamanan pangan karkas ayam. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi mutu dan keamanan karkas selama transportasi adalah kondisi karkas,alat transportasi, waktu tempuh dan suhu ruangan/lingkungan.Dalam pengangkutan karkas ayam, kondisi karkas harus ASUH.Alat transpoortasi yang digunakan harus tertutup (berupa box) dan temperatur ruangan harus -4 – 0°C, yang memungkinkan dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme selama transportasi.Waktu tempuh transportasi yang singkat, tempat tertutup pada suhu ruang tersebut dapat mempertahankan mutu dan keamanan karkas ayam.

3.2.2 Manajemen Pemotongan
Seluruh ayam dari unit budidaya ditampung di RPA sesuai dengan bobot yang diminta oleh RPA.Apabila ayam besar dari unit budidaya tidak memenuhi standar dan kualitas RPA, maka ayam tersebut dapat dijual ke pasar luar. Di unit RPA ini dibutuhkan cold storage dengan kapasitas yang cukup besar, yang sewaktu-waktu dipakai apabila harga ayam besar turun sehingga RPA dapat memotong ayam dalam jumlah yang sangat banyak dan apabila harga sudah membaik kembali, maka RPA tinggal mengeluarkan stok ayam di gudang. RPA yang dipakai sebaiknya RPA kelas menengah/ semi modern, mengingat RPA yang modern membutuhkan investasi dan modal yang sangat besar.
Pelaksanaan kegiatan pemotongan dapat menerapkan prinsip HACCP (Hazard Analysis Control Critical Point) dimana secara garis besar evaluasinya dapat dilakukan melalui tahapan berikut:
1.    Penerimaan/penyimpanan ayam hidup
2.    Hanging/menggantung
3.    Stunning/pemingsanan
4.    Killing/menyembelih
5.    Bleeding/mengeluarkan darah
6.    Scalding/pencelupan-pemanasan
7.    Picking/mencabut bulu
8.    Head removal/pemotongan kepala
9.    Washing/pencucian
10.  Hock cutter/pemotongan
11.  Transfer/rehang penggantungan kembali
12. oil sac cutter/memotong pundi-pundi
13.  Venting/opening eviscerating membuka rongga abdomen dan dada
14.  Presenting/penampakan
15.  Inspection/pemeriksaan/pengamatan
16.  Helper/pembantu
17.  Condemn/pengafkiran
18.  Offine prosedure/kemungkinan kesalahan prosedur
19.  Liver, heart harvest/ pemanenan hati, jantung
20.  Gut cutter/pemotongan saluran pencernaan
21.  Gizzard harvest/pemanenan ingkluves
22.  Neck and giblet chiller/leher dan jerohan
23.  Cropping/pemotongan retail
24.  Neck breaking/pemotongan leher
25.  Lung removal/pengambilan paru-paru
26.  Trimmer/pemotongan
27.  House checker/pengontrolan ruangan
28.   Final washer/pencucian akhir
Kenyataan dilapangan penerapan konsep HACCP di RPA sulit dilakukan, tidak hanya karena tiadanya sarana yang tersedia, tetapi disebabkan oleh faktor ketidaktahuan pengusaha pemotongan, ketidakpraktisan proses pemotongan dan tidak adanya pembinaan dari dinas peternakan setempat. Konsep HACCP yang disyaratkan memang sangat ideal untuk diterapkan, tetapi sangat berhubungan dengan investasi untuk pengadaan sarana RPA dan komitmen pengusaha.Untuk itu penerapan konsep ini harus dimodifikasi seperlunya sehingga dapat diterapkan untuk daerah-daerah yang tidak tersedia RPA modern atau jauh dari kota-kota besar yang mempunyai RPA semi modern.

3.2.3 Manajemen Pengolahan
Untuk mencegah perkembangan bakteri, maka pada proses pengemasan karkas ayam, suhu karkas sebelum dikemas maksimal 7 – 10°C, dengan bahan pengemas plastik yang tidak toksik, tidak bereaksi dengan produk dan mampu mencegah terjadinya kontaminasi pada proluk. Teknik pendinginan karkas ayam yang baik adalah menggunakan air pada temperatur maksimal 4 – 5°C dengan total es yang dibutuhkan 1,5 – 2,0 kg/ekor ayam, dengan waktu pendinginan 15 – 20 menit, dalam waktu tidak lebih dari 8 jam setelah penyembelihan, sehingga kondisi fisik, kimia dan mirobiologi karkas ayam tetap baik. Fungsi utama pengemasan adalah untuk melindungi karkas dari kerusakan yang terlalu cepat, baik kerusakan fisik, perubahan kimiawi, maupun kontaminasi mikroorganisme, dan untuk menampilkan produk dengan cara yang menarik.
Penyimpanan karkas juga harus memperhatikan beberapa faktor. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mutu karkas saat penyimpanan adalah temperatur, tingkat kebersihan karkas sebelum disimpan, tempat penyimpanan, cara pemotongan/penanganan, dan bahan pengemas. Agar karkas ayam tidak mudah rusak, rasa dan nilai gizinya dapat dipertahankan, teknik penyimpanan bertujuan untuk melindungi konsumen dari berbagai reaksi senyawa yang dikandung karkas ayam, akibat kontaminasi mikroba patogen yang dapat meracuni konsumen..Teknik penyimpanan karkas ayam yang baik adalah menggunakan suhu ruangan -4–0°C.Teknik ini dapat mempertahankan dan melindungi karkas dari berbagai kontaminan berbahaya, mutu fisik dapat dipertahankan, mutu gizinya tetap baik dan dapat menekan pertumbuhan bakteri, sihingga dapat memperpanjang daya simpan 1 – 3 bulan.Penyimpanan karkas dingin sebaiknya dibatasi dalam waktu yang relatif singkat, karena adanya perubahan-perubahan kerusakan yang meningkat sesuai dengan lama penyimpanan.Oleh karena itu penambahan bahan pengawet berbahaya dapat ditekan.















IV.    KESIMPULAN
Definisi kualitas karkas sulit untuk ditentukan secara objektif karena pendefinisiannya tergantung pada preferensi konsumen.Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam menentukan kualitas suatu karkas.Namun telah ada standar yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengetahui apakah suatu karkas baik dan aman untuk dikonsumsi. Standar yang dapat dijadikan acuan diantaranya adalah SNI-3924:2009.
Perjalanan untuk mendapatkan karkas yang baik dan aman sangat panjang sejak penanganan pra panen hingga pasca panen.Oleh karena itu, sejak pertama kali DOC datang hingga panen dan sampai ke tangan konsumen sangat diperlukan penerapan manajemen yang baik.Sehingga karkas dan daging yang diperoleh memiliki kualitas yang baik dan aman untuk dikonsumsi.














DAFTAR PUSTAKA

Abubakar. 2008. Standarisasi Rumah Potong Ayam (RPA) “Tradisional” dan Penerapan HACCP dalam Proses Pemotongan Ayam di Indonesia. Prosiding PPI Standarisasi. Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. Bogor.
Astiningsih, NK. 1997. Pengaruh Bahan Atap Kandang dan Strain Terhadap Penampilan Ayam Pedaging. Jurusan Produksi Ternak Universitas Udayana. Denpasar.
Badan Standarisasi Nasional.2009. Mutu Karkas dan Daging Ayam.Standar Nasional Indonesia. SNI-3924:2009
Hadi, Upik Kesumawati. 2003. Pelaksanaan Biosekuritas pada Peternakan Ayam.Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Bogor.
Haitook, Theerachai. Study on Chicken Meat Production for Small-Scale Farmers in Northeast Thailand.Journal of Agriculture and Rural Development in the Tropics and Subtrophics.German Institute for Tropical and Subtropical Agriculture.Witzenhausen.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha RI. 2010. Position Paper Komisi Pengawas Persaingan Usaha Terhadap Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 4 Tahun 2007 Tentang Pengendalian Pemeliharaan dan Peredaran Unggas.
Puspani, Eny, dkk. 2008. Pengaruh Tipe Lantai Kandang dan Kepadatan Ternak Terhadap Tabiat Makan Ayam Pedaging Umur 2-6 Minggu.Makalah Ilmiah Peternakan Vol. 11 No. 1.
Romindo Privatecom. 2004. Manjemen Pemeliharaan Broiler. Jakarta.
Triyantini, dkk. 2000. Mutu Karkas Ayam Hasil Teknik Pemotongan Berbeda. Disampaikan pada Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor.

LAMPIRAN
Dokumentasi Kunjungan Peternakan Ayam Broiler di Limpakuwus







Kunjungan Ke Rumah Pemotongan Ayam di Komplek Pasar wage Purwokerto








2 komentar:

andi pertiwi damayanti mengatakan...

http://www.sfi4.com/12276043/FREE

LUKISAN HATI mengatakan...

ini ci ttg apa?

Poskan Komentar