RSS

Rabu, 04 Juli 2012

LAPORAN MRPT LAPANGAN


I.                PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Permasalahan yang dihadapi dunia peternakan Indonesia antara lain adalah masih rendahnya produktifitas dan mutu genetik ternak. Keadaan ini terjadi karena sebagian besar peternakan di Indonesia masih merupakan peternakan konvensional, dimana mutu bibit, penggunaan teknologi dan keterampilan peternak relatif masih rendah, pemeliharaan ternak dilakukan secara sambilan (bukan menjadi sumber ekonomi utama) dengan kepemilikan ternak 1-3 ekor. Rendahnya produktifitas ternak sapi ditandai dengan rendahnya pertambahan bobot badan harian yang rata-rata masih dibawah 0,4 kg/hari. Dari aspek reproduksi antara lain, panjangnya jarak beranak (calving interval) sapi betina produktif yang rata-rata diatas 18 bulan serta angka kelahiran (calving rate) yang masih dibawah 60 % dari sapi betina produktif yang akan berdampak terhadap rendahnya perkembangan populasi sapi per tahun dan rendahnya pendapatan petani dari usaha ternak sapi.
Faktor keberhasilan ternak salah satunya tergantung pada penampilan reproduksi. Penampilan reproduksi menyangkut reproduktivitas. Penampilan reproduksi berhubungan dengan efisiensi reproduksi. Penampilan reproduksi yang baik akan menunjukkan nilai efisiensi reproduksi yang tinggi .  Produktivitas yang masih rendah tersebut dapat diakibatkan oleh berbagai faktor terutama yang berkaitan dengan manajemen reproduksi. Variabel yang berpengaruh seperti umur pertama kali melahirkan, umur pertama dikawinkan, jumlah perkawinan per kebuntingan dan jarak kelahiran.
Manajemen reproduksi yang rendah akan menunjukkkan nilai efisiensi reproduksi yang rendah. Efisiensi reproduksi yang rendah dapat diakibatkan oleh berbagai faktor terutama yang berkaitan dengan manajemen reproduksi. Bibit ternak merupakan salah satu sarana produksi yang memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam upaya meningkatkan jumlah dan mutu produksi ternak, dan sebagai salah satu faktor dalam penyediaan pangan asal ternak yang berdaya saing tinggi. Untuk dapat menghasilkan bibit ternak yang unggul dan bermutu tinggi diperlukan proses manajemen pemeliharaan, pemuliabiakan (breeding), pakan dan kesehatan hewan ternak yang terarah dan berkesinambungan. Produksi bibit ternak tersebut diarahkan agar mampu menghasilkan bibit ternak yang memenuhi persyaratan mutu untuk didistribusikan dan dikembangkan lebih lanjut oleh instansi pemerintah, masyarakat maupun badan usaha lainnya yang memerlukan dalam upaya pengembangan peternakan secara berkelanjutan dan berdaya saing.
Peningkatan produksi ternak ruminansia seperti ternak potong sudah merupakan hal yang seharusnya dilakukan dalam mewujudkan swasembada daging dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dilihat dari potensi ternak yang ada, produksi daging sapi dalam negeri saat ini belum menunjukan kemampuan yang sebenarnya, karena kebutuhan dalam negeri belum bisa dipenuhi dari produksi sendiri, untuk memenuhi kebutuhan terpaksa melakukan impor sekitar 30%. Melalui fenomena ini pemerintah mengambil kebijakan yakni swasembada daging tahun 2010 yang dikenal dengan program percepatan swasembada daging sapi (P2SDS). P2SDS menuntut peningkatan populasi sapi dalam negeri sekitar 1,55 juta ekor dari populasi saat ini 11,28 juta ekor. Upaya peningkatan populasi ini dapat berasal dari kontribusi peternakan rakyat, perusahaan dan pemerintah. Tingkat kelahiran berdasarkan data Dinas Peternakan Kota Padang hanya 40%. Permasalahan perningkatan populasi ternak tidak terlepas dari persoalan reproduksi. Pada peternakan sapi salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan populasi adalah dengan cara meningkatkan efsiensi reproduksi. Peningkatan reproduksi dilakukan dengan cara meningkatkan kelahiran. Peningkatan kelahiran dapat dilakukan dengan mengoptimalkan kemampuan atau potensi reproduksi. Untuk mencapai sasaran tersebut antara lain dengan cara mengetahui manajemen reproduksi. Hal ini bertujuan untuk memperpendek jarak kelahiran.
Peningkatan produktivitas sangat tergantung kepada bibit yang baik, ketersediaan makanan yang kontinu dan bernilai gizi, sistem pemeliharaan dan tata laksana perkawinan yang baik serta manajemen reproduksi dan penanganan kesehatan yang baik. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang sapi potong dari segi pemuliaan, reproduksi dan manajemen.

1.2.            Tujuan
            Mahasiswa mampu mengetahui manajemen reproduksi ternak di peternakan yang dikunjungi dan membandingakan dengan materi yang ada di kuliah.

1.3.            Waktu dan Tempat
            Praktikum lapangan manajemen reproduksi ternak dilaksanakan pada hari  Senin, 4 Juni 2012 di  Banteran Rt 01/ Rw 03 Kecamata Sumabang Kabupaten Banyumas.





II.             TINJAUAN PUSTAKA
Efisiensi reproduksi adalah ukuran kemampuan seekor sapi untuk bunting dan me  nghasilkan keturunan yang layak (Niazi, 2003). Sedangkan menurut Hafez (1993)  efisiensi reproduksi adalah penggunaan secara maksimum kapasitas reproduksi. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi reproduksi terutama melalui penerapan bioteknologi atau mengembangkan teknologi praktis dan praktek-praktek manajemen yang dapat meningkatkan efisiensi reproduksi (Basyir, 2009).
Manajemen perkawinan ternak yang baik juga merupakan hal yang sangat penting untuk meningkatkan efisiensi reproduksi termasuk perbaikan keturunan.  Salah satu cara untuk memperbaiki manajemen ternak adalah dengan inseminasi buatan (IB).  Dengan hal ini berarti meningkatkan efisiensi reproduksi pada hewan donor tersebut (Wijaya, 2008).
Ukuran efesiensi reproduksi dalam usaha peternakan sangatlah penting, dengan adanya beberapa ukuran efesiensi reproduksi sapi perah berdasarkan penampilan reproduksi (Djagra, 1989 ): periode kosong yaitu periode atau selang waktu sejak sapi beranak sampai dikawinkan kembali dan terjadi kelahiran, kawin pertama setelah beranak yaitu selang waktu sejak sapi beranak sampai dikawinkan kembali, jumlah kawin pada setiap kelahiran yaitu berapa kali sapi dikawinkan sampai terjadi kelahiran. Lama bunting yaitu selang waktu sejak sapi dikawinkan dan terjadi kelahiran sampai sapi beranak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi reproduksi antara lain pakan nutrisi yang terkandung di dalam ransum berpengaruh pada organ-organ reproduksi dan fungsi kelenjar-kelenjar yang memproduksi hormon. Manajemen atau tatalaksana sangatlah berpengaruh terhadap ternak sapi. Penyakit dan suhu udara dan musim sangat berpengaruh terhadap sifat reproduksi (Suyasa, 1999).






III.          METODE DAN CARA KERJA
3.1.            Metode
3.1.1.      Alat
a.    Alat tulis
3.1.2.      Bahan
b.   Kuisioner
c.    Tempat yang dikunjungi
3.2.            Cara Kerja
a.       Tempat peternakan yang akan disurvei ditentukan
b.      Janji pertemuan dengan pemilik ternak dibuat
c.       Peternakan dikunjungi
d.      Kondisi peternakan diamati
e.       Sistem perkawinan pada peternakan tersebut sesuai kuisioner didiskusikan.





IV.          HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.            Hasil
A.    Identitas Peternak
Nama                             :    Bapak Supar
Alamat                           :    Banteran Rt 01/ Rw 03 Kecamatan
                                            Sumabang Kabupaten Banyumas
Jenis Ternak                   :    Sapi
Lama Beternak              :    25 Tahun
Alasan Beternak            :    Untuk meraih keuntungan
Jumlah Ternak                :    3 ekor
B.     Manajemen Perkawinan Ternak Jantan
Jenis Ternak                   :    Sapi
Bangsa                           :    Simental
Jumlah Ternak Jantan    :    1
Umur pertama kali         :    5 bulan
di kawinkan
Berapa kali dalam          :    2 x 1 bulan
seminggu
C.    Manajemen Perkawinan Ternak Betina
Jenis Ternak                   :    Sapi
Bangsa                           :    Simental dan Limosin
Jumlah Ternak Induk     :    2
Umur pertama kali         :    3 tahun
di kawinkan
Sistem Perkawinan        :    IB
(IB/KA)                        
Alasan IB/KA                :    Mudah



Bangsa pejantan             :    Simental dan Limosin           
yang digunakan            
Biaya mengkawinkan    :    Rp. 100.000,00
Kendala-kendala            :    Saat menunggu waktu birahi
dalam mengkawinkan

Tingkat Keberhasilan     :    2x perkawinan baru jadi
Umur mengkawinkan    :    2 tahun
ternak dara
Berapa kali                     :    2 x 1 bulan
dikawinkan                   
Kendala-kendakla          :    Makanan yang dibutuhkan harus penuh gizi
saat kebuntingan
Lama bunting                 :    9 bulan
Kendala-kendala            :    -
saat beranak
Anakan yang                  :    Jantan
Diharapkan (J/B)           
Alasannya                      :    Lebih mahal
Waktu dikawinkan        :    3 bulan
setelah beranak
Alasannya                      :    Agar cepat menghasilkan keturunan
Umur anakan dijual       :    5
Alasannya                      :    Bagus, harga tinggi dari sapi lokal.








4.2.            Pembahasan
Keberhasilan reproduksi merupakan cermin keberhasilan suatu usaha peternakan. Berkembangnya populasi sangat tergantung pada induk dan bibit yang berkualitas serta jumlah kelahiran sapi yang banyak. Hal ini tentu sangat ditunjang oleh manajemen reproduksi yang optimal. Produksi dan reproduksi sangat berkaitan erat bagi berkembang dan tersedianya ternak sapi. Kegagalan seekor ternak untuk menjadi bunting pada satu atau lebih perkawinan akan menghilangkan produk konsepsi pada satu atau lebih periode kebuntingan (Salibury dan Vandermark, 1985).
Manajemen perkawinan yang tepat merupakan salah satu cara untuk memperoleh tingkat keberhasilan kebuntingan pada hewan ternak. Manajemen ini meliputi pola perkawinan, pengamatan waktu berahi, pemilihan sapi jantan yang tepat, serta keterampilan dan pengetahuan petugas maupun peternak dalam teknik perkawinan. Dipeternakan perkawinan dilakukan secara alami atau melalui kawin suntik atau IB ( Fikar, 2010).
Kemampuan untuk mempunyai anak yang hidup bukanlah suatu aktifitas fisilogik yang mutlak efisien. Efisiensi reproduksi dalam populasi ternak tidak dapat diukur semata-mata oleh proporsi ternak yang tidak mampu  memproduksi anak. Banyak induk yang melahirkan anak dengan interval panjang, atau mati pad awaktu bunting maupun saat melahirkan sehingga menyebabkan  masalah penurunan efisiensi reproduksi. Tampaknya keanekaragaman peristiwa mungkin dapat merintangi proses kelahiran seekor anak yang normal sejak perkawinan sampai waktu beranak (Yedi, 2003).
Pada praktikum manajemen reproduksi peternakan sapi yang kami survei milik Bapak Supar yang beralamat di Banteran Rt 01/ Rw 03 Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Beliau beternak sapi sudah 25 tahun. Alasan beliau beternak sapi adalah untuk meraih keuntungan. Jumlah ternak yang ada saat ini hanya 3 ekor. Beliau beternak untuk dijual lagi saat sapi yang diternaknya sudah memiliki anak. Bapak Supar awal memiliki ternak dengan membeli indukan sapi potong lokal. Karena harga jual yang rendah maka beliau beralih pada sapi impor.
A.      Manajemen Perkawinan Ternak Jantan
Sapi jantan yang dipelihara oleh Bapak Supar adalah bangsa simental. Jumlah nya 1 ekor dan berumur 5 bulan. Jika akan dikawinkan pejantan harus berumur 2 tahun dan dikawinkan 2x 1bulan. Beliau dahulu memelihara pejantan untuk dikawinkan didesanya jika ada sapi betina yang estrus, tetapi saat ini beliau memelihara untuk dijual dan beliau menggunakan IB untuk sapi betinanya yang sedang estrus.
Pubertas adalah umur atau waktu dimana organ-organ reproduksi mulai berfungsi dan perkembangbiakan dapat terjadi. Pada hewan jantan, pubertas ditandai oleh kesanggupan berkopulasi dan menghasilkan sperma disamping perubahan-perubahan kelamin skunder lain.
Ciri-ciri atau bentuk luar sapi potong jantan yang baik:
·       Kurus tapi sehat sehingga pada waktu digemukkan akan mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat (pertumbuhan kompensasi)
·       Memiliki kerangka tubuh yang besar, ukuran badan panjang dan dalam, punggung lurus, jarak antara dua kaki belakang lebar. Rusuk tumbuh panjang yang memungkinkan sapi mampu menampung jumlah makanan yang banyak. Sapi yang demikian menunjukkan kapasitas produksi yang baik
·       Bentuk tubuh segi empat, pertumbuhan tubuh bagian depan, tengah dan belakang
·       Tidak boleh memperlihatkan cacat tubuh yang akan mempengaruhi kemampuan produksi, misalnya pincang dan kelainan rahang.

B.       Manajemen Perkawinan Ternak Betina
Sapi betina (induk) yang dipelihara Pak Supar adalah bangsa simental dan limosin. Jumlah nya ada 2 berumur 3 tahun. Pertama kali dikawinkan umur 2 tahun, sistem perkawinannya menggunakan IB karena pengggunaan IB dianggap lebih mudah dibanding kawin alami  walau beliau harus mengeluarkan biaya Rp. 100.000,00 untuk IB. Bangsa  sapi betina yang yang dipelihara yaitu ada 1 sapi simental dan 1 limosin.
Kendala saat perkawinann adalah saat menggu waktu berahi yang lama. Tingkat keberhasilan yaitu paling sering 2x dalam 1 bulan IB baru ternak bisa bunting. Kendala-kendala yang dialami peternak pada umumnya tidak ada karena sistem pemeliharaannya yang baik tetapi beliau hanya menyebutkan makanan yang dibutuhkan harus penuh gizi saat sapi bunting agar sapi bisa beranak dengan baik. Lama bunting yang diperlukan yaitu 9 bulan. Anak yang diharapkan oleh peternak yaitu sapi jantan karena harga jualnya yang lebih mahal. Jarak waktu dikawinkan setelah beranak yaitu  3 bulan. Alasannya agar cepat menghasilkan keturunan. Umur anakan dijual 5 bulan.karena bagus, harga tinggi dari sapi lokal.
Reproduksi merupakan proses fisiologis pada makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan. Hewan tingkat tinggi, termasuk ternak sapi, bereproduksi secara seksual, dan proses reproduksinya meliputi beberapa tingkatan fisiologik yang meliputi fungsi-fungsi yang sangat komplek dan terintegrasi antara proses yang satu dengan yang lainnya. Tingkatan-tingkatan fisiologik tersebut meliputi: 1) Pembentukan sel-sel kelamin ( gamet ), 2) Pelepasan sel-sel gamet yang telah berdiferensiasi secara fungsional, 3) Perkawinan untuk mempertemukan gamet jantan dan gamet betina, 4) Fertilisasi, fusi antara kedua pronuclei, 5) Pertumbuhan, diferensiasi dan perkembangan zigote sampai kelahiran normal. Dalam bidang peternakan, produktivitas ternak tidak dapat dipisahkan dengan proses reproduksi. Sebagai contoh, untuk menghasilan telur, susu dan ternak muda, haruslah melalui serangkaian proses reproduksi yang dimulai dengan pembentukan sel telur/ sel sperma, ovulasi, fertilisasi, pertumbuhan dan perkembangan fetus sampai dengan dilahirkan (partus).
Pengetahuan tentang reproduksi ternak sangat penting diketahui oleh seorang peternak. Dengan manajemen reproduksi yang baik peternak dapat meningkatkan efisiensi reproduksi termasuk perbaikan keturunannya. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi reproduksi terutama melalui penerapan bioteknologi atau mengembangkan teknologi praktis dan praktek-praktek manajemen yang dapat meningkatkan efisiensi reproduksi. (Basyir, 2009). Salah satu cara untuk memperbaiki manajemen ternak adalah dengan inseminasi buatan (IB) yang kini efisiensinya sudah puluhan tahun dinikmati. Dengan teknik IB dapat ditingkatkan perbaikan mutu genetik secara cepat, untuk pencegahan kemajiran ternak, pencegahan penyebaran penyakit. Teknik lainnya untuk meningkatkan efisiensi reproduksi adalah dengan embrio transfer (TE). Teknik ini dilakukan secara bersamaan dengan superovulasi. Dengan teknik superovulasi, betina yang berkualitas baik yang dipakai sebagai donor embrio dipacu agar dapat mengovulasikan banyak sel telur, setelah sel-sel telur itu dibuahi dan berkembang menjadi zigot-zigot. Zigot-zigot tersebut kemudian ditransfer pada beberapa resipien. Dengan cara ini berarti meningkatkan efisiensi reproduksi pada hewan donor tersebut
Ø    Pubertas (Dewasa Kelamin)
Pada hewan betina pubertas dicerminkan oleh terjadinya estrus dan ovulasi. Sebelum pubertas, saluran reproduksi betina dan ovarium perlahan-lahan bertambah ukuran dan tidak menunjukkan aktivitas fungsional.
Pertumbuhan dan perkembangan organ-organ kelamin betina sewaktu pubertas dipengaruhi oleh hormon-hormon gonadotropin dan hormon-hormon gonadal. Rata-rata ternak sapi mengalami masa pubertas pada umur 16-20 bulan. Pada sapi potong, pubertas rata-rata terjadi pada saat berat badan sapi mencapai 45-55% dari berat dewasa. Untuk mendapatkan induk yang baik dan anak yang sehat maka perkawinan pertama pada sapi dara baru boleh dilakukan pada saat sapi sudah mengalami dewasa tubuh, kira-kira pada berat antara 170-240 kg, disamping juga sudah mencapai dewasa kelamin.
Ø    Estrus
Estrus ialah suatu periode yang ditandai dengan kelakuan kelamin seekor ternak betina dan penerimaan pejantan untuk kopulasi (Partodihardjo, 1987). Menurut Prihatno (2006), pengamatan berahi merupakan salah satu faktor penting dalam manajemen reproduksiternak sapi. Kegagalan dalam deteksi berahi dapat menyebabkan kegagalan kebuntingan. Problem utama deteksi berahi yang sering dijumpai adalah sapi-sapi yang subestrus atau silent heat (berahi tenang), karena tidak semua peternak mampu mendeteksinya. Pengamatan berahi pada sapi betina sebaiknya dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore. Disamping itu berahi pada sapi dara juga sulit diamati. Menurut Hosein and Gibson (2006), deteksi estrus pada sapi dara biasanya sedikit lebih sulit karena pendeknya periode estrus. Karena itu kemungkinan tanda-tanda estrus pada sapi dara lebih sulit diamati dibandingkan dengan sapi yang pernah bunting. Maka dari itu di sarankan pada para peternak untuk memeriksa tanda-tanda berahinya 3 kali sehari pada sapi dara.
Beberapa tanda-tanda sapi berahi antara lain:
1. Kemaluan terlihat membengkak dan kemerahan, jika diraba terasa hangat, dan mengeluarkan mucus (lendir) bening yang menggantung dari vulva atau terlihat di pangkal ekor
2. Kurang nafsu makan
3. Urinasi berkali-kali
4. Gelisah dan teriak-teriak
5. Kadang-kadang menaiki sapi lain dan diam jika dinaiki sapi lain (standing heat)
Tanda-tanda yang disebutkan diatas sama seperti yang disebutkan oleh peternak yang kita kunjungi. Siklus berahi pada setiap hewan berbeda antara satu sama lain tergantung dari bangsa, umur, dan spesies (Partodiharjo, 1992). Pada keadaan normal, siklus berahi pada sapi berkisar antara 18-24 hari atau rata-rata 21 hari, dengan lama berahi antara 12-28 jam atau rata-rata 18 jam. Sapi dara menjadi berahi sekali dalam 20 hari, dengan variasi 18-22 hari. Menurut Toelihere (1979), siklus berahi pada umumnya dibagi dalam 4 fase, yaitu : proestrus (lamanya 3 hari), estrus atau berahi (lamanya 18 jam), metestrus(lamanya 3-5 hari), dan diestrus (lamanya 13 hari). Sementara terjadinya ovulasi 10-14 jam setelah estrus.
Ø    Perkawinan
Salah satu faktor penyebab rendahnya perkembangan populasi sapi adalah manajemen perkawinan yang tidak tepat, diantaranya: (1) pola perkawinan yang kurang benar, (2) pengamatan berahi dan waktu kawin tidak tepat, (3) rendahnya kualitas atau kurang tepatnya pemanfaatan pejantan dalam kawin alam dan (4) kurang terampilnya petugas serta (5) rendahnya pengetahuan peternak tentang kawin suntik/IB (Affandhy et al, 2007).
Teknik perkawinan yang berkembang saat ini ada 2 (dua) yaitu:
1. Kawin alam
Upaya peningkatan populasi ternak sapi dapat dilakukan dengan intensifikasi kawin alam melalui distribusi pejantan unggul terseleksi dari bangsa sapi lokal atau impor.
Setelah 6-12 jam terlihat gejala berahi, sapi induk dibawa dan diikat ke kandang kawin yang dapat dibuat dari besi atau kayu, kemudian didatangkan pejantan dan dikawinkan dengan induk yang berahi tersebut minimal dua kali ejakulasi.
Kawin alam dapat juga dilakukan di kandang kelompok dengan perbandingan jumlah pejantan dengan induk betina 1:10 ekor. Penggabungan pejantan dengan betina dilakukan selama 2 bulan. Jika telah terjadi kebuntingan, sapi betina dipindahkan ke kandang individu. Selain itu kawin alam juga dapat dilakukan di padang penggembalaan.
2. Inseminasi buatan (IB)
Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut 'insemination gun'.
Tujuan Inseminasi Buatan :
a) Memperbaiki mutu genetika ternak
b) Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya
c) Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama
d) Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur
e) Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.

Keuntungan IB
a) Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan
b) Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik
c) Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding)
d) Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama
e) Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati
f) Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar
g) Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
Waktu pelaksanaan IB yang ideal adalah 10-22 jam setelah awal terlihat gejala berahi induk, yakni bila berahi pagi dikawinkan pada sore hari dan bila berahi sore hari dapat dikawinkan pada besok paginya (Affandhy et al, 2007).
Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan inseminasi buatan diantaranya :
1. Kondisi betina, meliputi kesehatan dan anatomi organ reproduksi, Body Condition Score (BCS), lingkungan dan pakan, ektoparasit dan endoparasit.
2. Spermatozoa, dilihat dari total sperma yang motil (% motilitas dan konsentrasinya)
3Ketepatan waktu IB (siklus berahi)
4. Penempatan posisi semen saat IB (tepat di depan cervik ± 3 cm) 
            Pada peternakan yang kami kunjungi milik Bapak Supar menggunakan perkawinan secara inseminsi buatan (IB). Perkawinan secara IB digunakan oleh pemilik ternak karena lebih praktis untuk dijalankan. Selain itu peternak juga tidak memiliki sapi jantan yang dewasa untuk dikawinkan.

Ø    Kebuntingan
Kebuntingan merupakan suatu peristiwa semenjak terjadinya pembuahan sampai masa kelahiran atau selama perkembangan janin sampai menjadi fetus di dalam uterus. Berdasarkan ukuran individu dan perkembangan jaringan serta organ, periode kebuntingan dibedakan atas tiga bagian. Pertama adalah periode ovum/blastula, dimulai dari fertilisaasi sampai terjadi implantasi. Segera setelah terjadi fertilisasi, ovum yang dibuahi akan mengalami pembelahan di ampullary–isthnic junctionmenjadi morula. Pada sapi, masuknya morula ke dalam uterus terjadi pada hari ke 3-4 setelah fertilisasi. Setelah hari ke 8, blastosit mengalami pembesaran secara pesat, misalnya embrio domba pada hari ke 12 panjangnya 1 cm, 3 cm pada hari ke 13, dan 10 cm pada hari ke 14. Lama periode ini pada sapi sampai 12 hari. Pada periode ini, embrio yang defektif akan mati dan diserap oleh uterus. Periode kedua adalah periode embrio/organogenesis, dimulai dari implantasi sampai saat dimulainya pembentukan organ tubuh bagian dalam. Pada sapi berkisar pada hari ke 12-45 setelah fertilisasi. Selama periode ini terjadi pembentukan lamina germinativa, selaput ekstraembrionik, dan organ-organ tubuh. Periode ketiga adalah periode fetus/ perkembangan fetus, dimulai dari terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam, terbentuknya ekstremitas, sampai lahir. Selama periode ini terjadi perubahan dan diferensiasi organ, jaringan dan sistem tubuh (Hafez, 1993).
Kebuntingan dapat diketahui dengan melakukan pengamatan berahi terhadap induk sapi pada hari ke 18-24 setelah dilakukan perkawinan. Jika pada waktu tersebut tidak terdapat gejala berahi, kemungkinan pembuahan telah terjadi. Disamping itu kebuntingan juga dapat diketahui dengan cara palpasi perektal terhadap uterus. Ovarium dan pembuluh darah uterus adalah cara diagnosa kebuntingan yang paling praktis dan akurat pada sapi. Pada peternakan Bapak Supar sapi yang bunting perlakuannya tidak terlalu berbeda dengan sapi biasa. Namun pada pakan lebih diutamakan. Sapi selama 9 bulan bunting benar-benar dijaga agar anak yang ada didalamnya tetap terjaga dan berkembang dengan baik.
Ø    Pemeliharaan Pedet
Saat pedet lahir di peternakan milik Bapak Supar, beliau menanganinya sendiri. Beliau memanggil mantri untuk penyuntikan mempermudah pedet keluar dan saat placenta pada sapi tidak ikut keluar bersama pedetnya. Manajemen pemeliharaan pedet merupakan salah satu bagian dari proses penciptaan bibit sapi yang bermutu. Untuk itu maka sangat diperlukan penanganan yang benar mulai dari sapi itu dilahirkan sampai mencapai usia sapi dara.
Pada saat pedet lahir, bersihkan semua lendir yang ada dimulut dan hidung harus dibersihkan demikian pula yang ada dalam tubuhnya menggunakan handuk yang bersih. Buat pernapasan buatan bila pedet tidak bisa bernapas. Potong tali pusarnya sepanjang 10 cm dan diolesi dengan iodin untuk mencegah infeksi lalu diikat. Berikan jerami kering sebagai alas. Beri colostrum secepatnya paling lambat 30 menit setelah lahir.
Nutrisi yang baik saat pedet akan memberikan nilai positif saat lepas sapih, dara dan siap jadi bibit yang prima. Sehingga produktivitas yang optimal dapat dicapai. Pedet yang lahir dalam kondisi sehat serta induk sehat di satukan dalam kandang bersama dengan induk dengan diberi sekat agar pergerakan pedet terbatas. Diharapkan pedet mendapat susu secara ad libitum, sehingga nutrisinya terpenuhi. Selain itu pedet dapat mulai mengenal pakan yang dikonsumsi induk yang kelak akan menjadi pakan hariannya pedet tersebut setelah lepas sapih. Bagi pedet yang sakit, pedet dipisah dari induk dan dalam perawatan sampai sembuh sehingga pedet siap kembali di satukan dengan induk atau induk lain yang masih menyusui.
PENYAKIT REPRODUKSI
Dipeternakan sapi yang kami survey tidak pernah mengalami penyakit yang kronis. Contoh penyakit reproduksi yang sering ditemui di lapangan adalah:
1. Brucellosis
Disebabkan oleh bakteri brucella abortus, bersifat zoonosis (dapat menular pada manusia) melalui lendir alat kelamin, lendir mata, makanan dan air yang tercemar, dan IB. gejala yang tampak adalah kematian janin pada 6-9 bulan kebuntingan. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kandang, vaksinasi, pemberian antiseptic dan antibiotika pada ternak yang sakit, pengasingan ternak yang terinfeksi, fetus dan plasenta yang digugurkan dibakar dan dikubur.
2. Distokia (kesulitan melahirkan)
Merupakan suatu kondisi stadium pertama kelahiran (dilatasi cervik) dan kedua (pengeluaran fetus) lebih lama dan menjadi sulit dan tidak mungkin lagi bagi induk untuk mengeluarkan fetus. Penanganan dapat dilakukan dengan cara: 1) Mutasi, mengembalikan posisi fetus, memutar, dan menarik, 2) penarikan paksa, 3) operasi cecar.
3. Leptospirosis
Penyebabnya yaitu Leptospira pomona, Leptospira gripothyposa, Leptospira conicola, Leptospira hardjo. Cara penularannya melalui kulit terbuka/ selaput lendir (mulut, pharynx, hidung, mata) karena kontak dengan makanan dan minuman yang tercemar. Gejala yang nampak diantaranya : anoreksia (tidak mau makan), produksi susu turun, abortus pada pertengahan kebuntingan.
4. Endometritis (radang uterus)
Merupakan peradangan pada endometrium (dinding rahim). Uterus (rahim) sapi biasanya terkontaminasi dengan berbagai mikroorganisme (bakteri) selama masa puerpurium (masa nifas). Gejalanya meliputi : leleran berwarna jernih keputihan sampai purulen (kekuningan) yang berlebihan, uterus mengalami pembesaran (peningkatan ukuran). Penderita bisa nampak sehat, walaupun dengan leleran vulva purulen dan dalam uterusnya tertimbun cairan. Pengaruh endometritis terhadapfertilitas (pembuahan) adalah dalam jangka pendek, menurunkan kesuburan, Calving Interval dan S/C naik, sedangkan jangka panjang menyebabkan sterilitas (kemajiran) karena terjadi perubahan saluran reproduksi.Faktor predisposisi (pendukung)terjadinya endometritis adalah distokiaretensi plasenta, musim, kelahiran kembar, infeksi bakteri serta penyakit metabolit. Penanganannya dengan injeksi antibiotik, hormon (PGF2α) dan irigasi/ pemasukan antiseptik intra uterina (Ratnawati et al, 2007).
Berbagai penyebab gangguan reproduksi tidak diketahui pasti, dan sering ganguan ini disebabkan oeh kombinasi dari beberapa faktor sehingga menimbulkan penurunan fertilitas. Memelihatra tingkat kesuburan yang memuaskan merupakan dasar bagi berhasilnya program reproduksi ternak. Beberapa penyebab penurunan fertilitas akan dibahas dibab ini berkaitan dengan faktor genetika kelainan anatomik, fisiologik, dan patologik, setra upaya peningkatan efisiensi reproduksi yang dijelaskan dengan beberapa indikator fertilitas.

PENYEBAB KEGAGALAN REPRODUKSI
Secara garis besar ada tiga faktor yang menyebabkan kegagalan reproduksi sehingga menurunkan efisiensi reproduksi pada ternak, yaitu kelainan anatomi dan keturunan, fisiologik dan psikologik, serta infeksi penyakit.
Ø    Kelainan anatomi dan keturunan
            Peranan genetik terhadap efisiensi reproduksi masih banyak didiskusikan. Diperkirakan bahwa pengaruh gen letal sedikit memegang pernanan karena gen latal merupakan penyebab kematian jiak gen ini diturunkan dari kedua tetuanya. Beberapa abnormalitasana anatomik berasal dari keturunaan (genetik), namun sedikit diketahui peranan genetik yang menyebebkan perubahan fisiologik hingga mempengaruhi fertilitas. Abnormalitas anaomik karena keturunan sering ditemukan seperti abnormalitas kelenjar gonad (hipoplasia testis dan ovarium) yang kurang berkembang,saluran reproduksi yang tidak tumbuh atau kurang sempurna seperti pada freemartin, serta abnormalitas primer dari spermatozoa, sehingga ternak yang mempunyai sifat ini memiliki fertilitas rendah. Kelainan karena faktor keturunan (kongetial) pada dasarnya menyebabkan kegagalan dalam reproduksi.
Ø    Upaya perbaikan efisiensi reproduksi
            Upaya peningkatan produktifitas ternak dengan meningkatkan efisiensi reproduksi dapat dilakukan melalui cara-cara sebagai beikut.
1.      Perbaikan sistem pemeliharaan ternak secara umum, termasuk pakan dan tatalaksana, mernagsang tingkat pertumbuhan dan laktasi, pengendalian penyakit.
2.      Perbaikan mutu genetik untuk menyediakan ternak yang dapat memanfaatkan secara maksimal sistem pemeliharaan yang diberikan.
3.      Mengembangkan teknologi untuk memaksimumkan potensi kinerja reproduksi ternak jantan dan betia dengan cara mengurangi kerugian karena kegagalan konsepsi, kematian embrio,dan fetus, dan kematian sekitar kelahiran
4.      Mengurangi kerugian produksi hasil ternak melalui penyimpanan dan pengawetan yang baik.

Faktor yang paling penting dapat mempengaruhiproduktifitas ternak adalah tingat reproduktifitasnya. Tingkat reproduksi didefinisikan sebagai jumlah ternak  betina yang hidup sampai umur yang dapat bereproduksi dibagi dengan jumlah induk. Manajemen berperan penting dalam efisiensi reproduksi yang diperoleh dari jantan dan betina. Manajemen sebaik apa pun tidak mungkin mencapai efisiensi 100%, namun manajemen yang jelek dapat mengakibatkan menurunkan secara drastis efisiensi reprosuksi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efisiensi reproduksi, perlu diperbaiki beberapa hal berikut ini :
1.      Manajemen reproduksi, selama ini perhatian pada ternak secara kontinyu masih kurang, terutama ketepatan waktu perkawinan, pengamatan estrus, pemeriksaan kebuntingan. Melaksanakan seleksi ternak (genetik) dengan meghindari perkawinan inbreeding juga perlu diperhatikan, selain mengikuti kemajuan teknologi dibidang reproduksi seperti sinkronisasi estrus, superovulasi, inseminasi buatan, dan induksi kelahiran.
2.      Manajemen lingkungan dilakukan dengan memodifikasi lingkungan untuk menurunkan stres.
3.      Manajemen pakan, perlu diperhatikan komponen nutien yang diseduaikan dengan kondisi fisiologis ternak saat pertumbuhan, kawin, birahi, bunting, lahir, dan laktasi (Yedi,2003).




V.             PENUTUP

5.1.            Kesimpulan
                 Peternakan yang kami kunjungi yaitu dipeternakan sapi milik Bapak Supar di Banteran Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas memiliki manajemen pemeliharaan yang cukup baik karena beliau sangat teliti dalam mengurus ternaknya dari kebersihan kandang, asupan makanan yang diberikan dan manajemen perkawinan. Manajemen reproduksi cukup baik, karena beliau sangat jeli saat melihat ternaknya sedang estrus dan beliau langsung memanggil orang untuk mengIB sapinya. Saat sapinya bunting asupan makanannya lebih diperhatikan untuk mendapatkan keturunan yang memiliki kualitas yang baik. Saat akan melahirkan beliau menanganinya sendiri kecuali ada kelainan pada ternaknya.

5.2.            Saran
            Untuk mengembangkan peternakan diperlukan manajemen yang baik dalam pemeliharaan ternak, khususnya dibidang manajemen reproduksinya. Karena reproduksi merupakan salah satu hal yang terpenting dalam keberhasilan pengembangbiakan ternak. Oleh karena itu dalam menjalankan peternakan harus memiliki manajeman yang baik.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

gag ada dapusnya kk

Posting Komentar