RSS

Rabu, 04 Juli 2012

MAKALAH PENGENDALIAN AI (AVIAN INFLUENZA)


TUGAS TERSTRUKTUR
PENGENDALIAN PENYAKIT TERNAK
MAKALAH PENGENDALIAN AI (AVIAN INFLUENZA)
Oleh :
                                               Gesit Wicaksono           D1E010164
                                               Erlindani Setya M         D1E010165
                                               Laeli Al Khuriyah         D1E010168
                                               Moh. Fahmi
                                               Praga Rizky G.             D1E0101       
                                               Novita Kurnia A           D1E0101
                                               Fika Fitriani B               D1E0101
                                               Jamal
                                               Agung
                                               Fredi
Kelompok : 5 (lima)


KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
PURWOKERTO
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Dunia memberikan perhatian yang besar terhadap wabah AI (Flu Burung) terhadap beberapa negara di Asia antara lain Indonesia, China, Thailand dan Kambodja. Saat ini, adalah tahun ke enam setelah wabah AI meledak pertama kali di China, keempat negara tersebut masih sedang mengalami wabah AI walaupun pada lokasi-lokasi tertentu. Dunia mengkhawatirkan perkembangan wabah AI di Asia mengingat penularan AI kepada manusia dan antara manusia dengan manusia yang pada akhirnya dapat berjangkit ke seluruh dunia. Indonesia, saat ini, menjadi pusat perhatian dunia karena korban manusia yang meninggal akibat AI menduduki peringkat tertinggi di dunia.
Indonesia  harus mempertimbangkan banyak hal dalam kemampuan mengendalikan wabah AI secara integratif, efektif, dan adil, karena industri perunggasan menjadi tumpuan hidup masyarakat banyak seperti penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan serta industri dan perdagangan pangan. Indonesia yang saat ini mempunyai masalah penyedia lapangan kerja bagi jutaan penduduk menganggur dan miskin, maka pembangunan industri peternakan unggas merupakan pilihan jawaban yang sangat baik saat ini.
Oleh karena itu, walaupun wabah AI sangat berbahaya bagi manusia, namun pemerintah diharapkan bersikap bijak dalam berbagai tindakan pengendalian AI untuk tidak mengabaikan dampaknya terhadap faktor sosial ekonomi peternak. WHO/FAO/OIE merekomendasikan perlunya dikembangkan one health system dalam pembangunan industri peternakan unggas, yang mempunyai pengertian menekankan azas kesehatan manusia dan hewan.
Wabah AI yang terjadi di Indonesia dari tahun 2003 sampai 2006, secara nyata mempunyai dampak sosial ekonomi yang luas terhadap industri unggas khususnya peternak kecil dan pengusaha rumah potong hewan ayam skala kecil dan para pedagang pada semua level. Dalam masa wabah tersebut sekitar 11 juta ekor ayam telah dimusnahkan, sekitar 60 persen peternak ayam menghentikan usahanya pada tahun 2005. Dampak AI baik secara langsung maupun tidak langsung telah menyebabkan produksi ayam turun sampai 60 persen. Indonesia mentargetkan bebas AI tahun 2009 tidak dapat terealisasi karena sampai Februari 2009 masih terjadi wabah flu burung diberbagai tempat.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apakah penyakit AI itu?
2.      Apa penyebab penyakit AI?
3.      Gejala apa yang timbul karena penyakit AI?
4.      Pengendalian yang perlu dilakukan untuk mencegah penyakit AI?





















BAB II
ISI

Avian Influenza (AI) atau lebih dikenal dengan sebutan penyatkit flu burung disebabkan oleh virus yang diklasifikasikan kedalam orthomyxoviruses dan memiliki tiga tipe yaitu tipe A, B, dan C. Virus ini menyerang bagian pernafasan atau sistem syaraf. Tingkat kematian akibat penyakit ini bisa mencapai 100%. Akibatnya, penyakit ini disebut dengan highly pathogenic avian influenza. Penyakit ini menyebabkan banyak kerugian pada usaha peternakan unggas, termasuk peternakan ayam. Pada banyak kasus, kerugian tersebut tidak dapat dihitung karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Pada prinsipnya virus flu burung tidak berbahaya atau mengakibatkan kematian pada manusia. Namun, karena sifat virus ini mudah bermutasi sehingga jika flu burung bertemu dengan flu manusia akan membentuk jenis virus baru yang membahayakan dan  bisa menyebabkan kematian. Virus ini dapat ditularkan melalui saliva (kelenjar ludah) dan kotoran ayam. Virus ini dapat hidup selama empat hari pada suhu 22o C. Bahkan, bisa tahan hidup lebih dari 30 hari pada suhu 0 o C. Namun, virus ini bisa mati pada suhu 80 o C dalam waktu satu menit.
Gejala yang tampak pada ayam yang terserang penyakit ini sangat jelas,tatapi tingkat serangannya tergantung dari umur dan spesies unggas yang terjangkit. Serangan akut menampakkan gejala adanya gangguan pernapasan seperti batuk, bersin, dan terjadi sinusitis. Selaini itu, menunjukan gejala seperti mata berair, badan lemah, produksi telur menurun drastis, diare, terjadi edema dibagian kepala dan muka, serta ayam tampak nervous. Penyakit ini akan menjadi lebih ganas bila diikuti dengan penyakit fowl cholera atau colibacillosis.
Luka (lesion) sangat bervariasi tergantung dari tingkat serangan virus tersebut. Namun, umumnya terjadi inflamasi di daerah trakea, sinus, kantung udara, dan conjunctiva. Jika ayam yang sedang bertelur terserang penyakit ini akan terjadi regresi pada indung telur dan terjadi perubahan bentuk pada oviduct. Selain itu, terjadi congestive, hemorrhagic, dan necrotic lesion. Gajala lain akan ditemukan adanya exsudate fibrinous atau caseous di bagian kantung udara (air sac), saluran telur (oviduct), kantung penutup jantung (pericardial sac), atau peritoneum. Terjadi edema dibagian mukosa trakea dengan exsudate yang encer sampai kental. Di bagian kulit, jengger, pial atau hati, limpa dan paru-paru akan ditemukannecrosis berbentuk bulat kecil. Penyakit ini bisa menyebar dengan cara unggas yang terjangkit AI mengeluarkan virus melalui saluran pernapasan, conjunctiva, dan kotoran. Penyakit tersebut menular melalui kontak langsung antara ayam yang sakit dengan ayam yang sehat. Selain itu, bisa menular secara tidak langsung melalui udara atau virus yang dikeluarkan melalui kotoran. Penularan juga bisa melalui kendaraan, peralatan, pakan, dan air minum yang sudah terkontaminasi AI (fadilah, 2004).
Unggas yang hidup di air seperti itik, angsa merupakan sumber utama penularan penyakit Avian Influenza selain kalkun dan semua spesies burung baik yang dipelihara maupun yang liar. Ungags air yang menjadi sumber penyakit Avian Influenza, umumnya memang tidak memberi petunjuk adanya gejala-gejala terserang, tetapi akan mengeluarkan virus selama jangka waktu yang sama, selain dapat tertular virus yang lebih dari satu tipe dan tidak membentuk antibody. 
Apabila kalkun yang terserang penyakit Avian Influenza virusnya tetap berada didalam tubuhnya selama beberapa bulan dan virus yang telah diisolasi dari telur kalkun, menunjukkan adanya pemindahan vertical meskipun virusnya akan membunuh embrio.Pembuangan telur yang tertular virus Alvian Influenza secara sembarangan akan menularkan virus pada burung yang kondisinya rentan, selanjutnya burung tersebut menularkannya kepeternakan ayam. Namun sesuai laporan penelitian yang resmi, penularan penyakit ini dapat melalui berbagai cara.
Virus avian influenza cukup tahan ,sehingga dapat dipindahkan melalui peralatan atau makanan dan tercemar virus tersebut. Tetapi kebanyakan yang terjadi adalah kontak langsung dari sumber penyakit dengan ayam yang kondisinya rentan.
Gejala klinis penyakit influenza sangat bervariasi dan tergantung pada banyak faktor, seperti usia ayam yang terserang, virulensi virus, cara penularan dan pengelolaan. Tetapi ayam segala usia dapat terserang penyakit ini. Virus avian influenza menyerang saluran pencernaan dan system syaraf. Bentuk yang paling ganas adalah penyakit yang umum dan akut yang ditandai oleh perjalanan singkat dengan mortalitas tinggi. Virus yang virulensinya rendah, tidak menimbulkan tanda-tanda, sedangkan yang tinggi virulensinya menyebabkan kematian, didahului dengan tanda-tanda gangguan pernafasan seperti batuk, bersin, ngorok, keluar air mata, dan terjadinya radang pada rongga-rongga hidun gayam. Bahkan sering ditambah gejala-gejala diare, kepala dan muka membengkak akibat bunting air atau gangguan syaraf. Tingkat kematian ayam yang terserang penyakit avian Influenza yang berlangsung singkat, dapat mencapai 100% (Murtidjo, 1992).
Lingkar hidup virus influensa unggas jenis patogenisitas rendah dalam unggas air liar secara genetik adalah stabil (Webster 1992). Siklus infeksi antar unggas terjadi melalui rantai oral-fekal (mulut-tinja). Selain menular melalui kontak langsung dari penjamu ke penjamu, air dan benda-benda lain yang tercemar virus merupakan jalur penularan tidak langsung yang juga penting. Ini berbeda dengan penularan virus influensa pada mamalia (manusia, babi, kuda) yang terutama terjadi melalui percikan yang tersembur dari hidung dan mulut. Pada unggas, titer ekskresi tertinggi yang pernah dilaporkan mencapai 108,7 x 50% dosis telur-terinfeksi (egginfected dose, EID50) per gram tinja (Webster 1978). Titer rata-rata biasanya jauh lebih rendah dari itu. Virus influensa unggas menunjukkan kemampuan yang mengagumkan dalam mempertahankan daya penularannya di lingkungan alam, terutama di permukaan air, meskipun dalam morfologi nampak rapuh (Stallknecht 1990a+b, Lu 2003). Telah dibuktikan bahwa suspensi virus dalam air mampu mempertahankan daya penularannya selama lebih dari 100 hari pada suhu 17o C. Di bawah – 50o C virus dapat bertahan praktis untuk waktu yang tidak terbatas. Data dari Ito et al (1995) dan Okazaki et al (2000) membuktikan bahwa di daerah palearktik, virus influensa unggas terawetkan di dalam air danau yang beku selama musim dingin ketika penjamu alaminya sedang bermigrasi ke tempat yang lebih panas. Ketika mereka kembali pada musim panas berikutnya, unggas-unggas tersebut bserta anak-anaknya yang masih rentan akan terinfeksi oleh virus-virus
yang terlepas sewaktu es mencair. Sejalan dengan temuan ini, diperkirakan bahwa virus-virus influensa tersimpan awet dalam lingkungan es untuk waktu yang sangat lama (Smith 2004), dan bahwa virus-virus kuno serta genotipnya dapat aktif kembali dari tempat-tempat penampungan semacam itu (Rogers 2004).
Masuknya virus LPAI subtipe H5 atau H7 ke tubuh kawanan unggas yang rentan merupakan dasar dari rantai infeksi yang dapat diikuti dengan perkembangan de novo biotipe yang sangat patogenik. Risiko penularan dari burung liar ke unggas peliharaan terutama terjadi kalau unggas peliharaan tersebut dibiarkan bebas berkeliaran, menggunakan air yang juga digunakan oleh burung liar, atau makan dan minum dari sumber yang tercemar kotoran burung liar pembawa virus (Capua 2003, Henzler 2003). Unggas juga dapat terinfeksi jika bersentuhan langsung dengan hewan pembawa virus, atau kotoran hewan lain yang membawa virus, atau bersentuhan dengan benda-benda yang tervemar bahan mengandung virus. Sekali virus menginfeksi kawanan unggas, LPAIV tidak harus mengalami suatu fase adaptasi pada spesies unggas tersebut sebelum dikeluarkan lagi dalam jumlah yang cukup besar untuk dapat menular secara horisontal ke unggas lain, baik dalam kawanan sendiri ataupun ke kawanan yang lain. Demikian pula sekali HPAIV berkembang dari kawanan unggas yang terinfeksi LPAIV, ia juga dapat menular dengan cara yang sama. Pasar unggas yang menjual unggas dalam jumlah besar dan unggas ditempatkan secara saling berdesakan, merupakan multiplikator penyebaran penularan (Shortage 1998, Bulaga 2003).
Tindakan pengamanan (biosecurity) yang baik, yang ditujukan untuk mengisolasi perusahaan peternakan unggas yang besar, dapat secara efektif mencegah penularan dari satu peternakan ke peternakan yang lain secara mekanik (misalnya melalui alat-alat, kendaraan, makanan, pakaian -- terutama sepatu, dan kandang atau kurungan yang tercemar)..Sebuah analisis yang dilakukan terhadap kasus wabah HPAI di Italia selama tahun 1999/2000 menunjukkan cara penulatan sebagai berikut: pemindahan atau perpindahan kawanan unggas (1,0%), kontak yang terjadi selama dalam pengangkutan unggas ke tempat pemotongan (8,5%), lingkungan dalam radius atu kilometer seputar peternakan yang terserang (26,2%), truk-truk yang digunakan mengangkut pakan, kandang atau bangkai unggas (21,3%), penularan secara tidak langsung karena pertukaran karyawan, alat-alat, dsb (9,4%) (Marangon and Capua 2005). Tidak ada petunjuk bahwa wabah yang terjadi di Italia itujuga menyebar melalui udara. Tetapi pada wabah yang terjadi di Belanda (2003) dan kanada (2004), diperkirakan juga terjadi penyebaran melalui udara (Landman and Schrier 2004, Lees 2004). Peranan vektor hidup seperti binatang pengerat atau lalat, yang dapat bertindal sebagai “vektor mekanik” tetapi dia sendiri tidak terinfeksi, belum dapat ditentukan tetapi yang pasti peranan mereka tidak dianggap besar.
Idealnya memang dengan vaksinasi, tetapi vaksin tidak selalu ada, kecuali vaksin yang dibuat di daerah kejadian. Namun dalam prakteknya, vaksin tidak afektif, karena untuk daerah lain, kalau ada perbedaan antigenic, sulit mengharapkan kemampuan hasil vaksinasi. Melaksanakan sanitasi yang baik sangat dianjurkan. Selain menjelang perubahan iklim, air minum ayam dapat dicampur dengan CTC (Chlortetracyclyne), diberikan selama 3 hari, dengan takaran 1 sendok teh penuh untuk 16 liter air minum. Untuk pengobatan terhadap ayam yang terserang penyakit Avian Influenza yang efektif tidak ada, sehingga jika ada ayam yang terserang dan positif adanya penyakit Avian Influenza, dianjurkan untuk disingkirkan dari peternakan (Murtidjo, 1992).
Kerentanan burung liar terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh HPAIV sangat bervariasi tergantung kepada spesies dan umur unggas, serta strain virusnya. Sampai pada munculnya virus ganas (HPAIV) garis H5N1 di Asia, limpahan dari HPAIV ke populasi burung liar hanya terjadi secara sporadik dan terbatas pada suatu daerah saja, kecuali satu yaitu pada kematian sekelompok sterna (sejenis camar) di Afrika Selatan pada tahun 1961 (Becker 1966), sehingga sebegitu jauh unggas liar secara epidemiologik tidak dianggap mempunyai peranan penting dalam penyebaran HPAIV (Swayne and Suarez 2000). Pandangan ini kini berubah secara fundamental sejak awal 2005, ketika terjadi wabah virus ganas (HPAIV) yang terkait dengan garis H5N1 Asia pada ribuan burung air di cagar alam Danau Qinghai di barat laut China (Chen 2005, Lu 2005). Akibat kejadian ini, ditemukan adanya penyebaran lebih lanjut ke arah Eropa selama tahun 2005 (OIE 2005).
Tindakan yang harus diambil dalam menghadapi wabah HPAI tergantung kepada keadaan epidemiologis di tiap negara/wilayah yang terkena. Di wilayah Uni Eropa yang HPAI-nya tidak endemik, pencegahan influensa unggas melalui vaksinasi biasanya dilarang. Dengan demikian jika ada wabah HPAI di antara unggas ternak dapat diperkirakan akan terjadi secara mencolok karena sifat klinis penyakit ini yang dapat menghancurkan industri ternak unggas. Akibatnya, jika hal itu terjadi, akan diambil tindakan yang lebih agresif, misalnya memusnahkan segala sesuatu yang tercemar virus, dengan tujuan segera membasmi virus HPAI dan melokalisasi wabah pada daerah atau perusahaan yang terkena saja.
Untuk tujuan ini, zona pengawasan dan pengendalian didirikan di sekitar kejadian dengan radius yang berbeda-beda pada tiap negara (antara 3 dan 10 kilometer di wilayah Uni Eropa). Pengkarantinaan peternakan yang terserang dan yang berhubungan dengannya, pemusnahan semua unggas yang terinfeksi atau terpapar virus, dan pembuangan bangkai unggas secara baik, merupakan cara yang baku untuk mencegah penyebaran secara lateral ke peternakan yang lain (OIE - Terrestrial Animal Health Code). Adalah sangat penting bahwa perpindahan unggas hidup dan, barangkali, juga produk ternak unggas, baik di dalam negeri maupun lintas negara, harus dibatasi selama ada wabah.
Selain itu, pengendalian LPAI subtipe H5 dan H7 pada unggas, melalui penutupan dan pembersihan atau bahkan pemusnahan peternakan yang terinfeksi, perlu dianjurkan untuk memperkecil risiko perkembangan HPAIV secara de novo di daerah itu. Masalah khusus dari konsep pemberantasan wabah seperti ini dapat muncul di daerah (1) dengan populasi unggas ternak yang sangat tinggi (Marangon 2004, Stagemann 2004, Manelli 2005) dan (ii) usaha ternak kecil di sekitarnya dengan unggas yang dibiarkan lepas berkeliaran (Witt and malone 2005). Akibat kedekatan lokasi industri peternakan unggas dengan industri yang terkait, persebaran penyakit dapat lebih cepat dibanding upaya pemberantasannya. Oleh karena itu sewaktu terjadi wabah di Italia tahun 1999/2000, bukan hanya perusahaan yang terinfeksi atau yang bersentuhan yang dihancurkan, tetapi juga kelompok unggas yang berisiko terinfeksi dalam radius satu kilometer dari peternakan yang terserang infeksi ikut dimusnahkan sebagai tindakan pre-emptive. Tindakan pembasmian tersebut memakan waktu empat bulan dan memusnahkan sebanyak 13 juta unggas (Capua 2003). Pembentukan zona penyangga yang berupa daerah bebas unggas dengan radius satu sampai beberapa kilometer dari peternakan yang terserang juga merupakan kunci keberhasilan pemberantasan wabah virus HPAI di Belanda di tahun 2003 dan Kanada di tahun 2004. Akibatnya musnahnya 30 juta unggas di Belanda dan 19 juta di Kanada bukan hanya disebabkan oleh wabah penyakit itu sendiri tetapi juga karena pemusnahan pre-emptive yang dilakukan. Di tahun 1977, penguasa Hong Kong memusnahkan seluruh populasi unggas dalam waktu tiga hari (pada tanggal 29, 30 dan 31 Desember; 1,5 juta unggas). Penerapan tindakan seperti itu yang ditujukan untuk segera membasmi HPAIV dengan juga mengorbankan hewan yang tidak terinfeksi, mungkin hanya dapat dilakukan di daerah perkotaan dan daerah peternakan unggas komersial. Tetapi tindakan ini juga akan memukul industri secara bermakna dan menimbulkan pertanyaan publik tentang aspek etika jika pemusnahan juga dilakukan terhadap jutaan hewan yang sehat dan tidak terinfeksi di wilayah penyangga.
Tindakan seperti itu sangat sulit dilakukan di daerah pedesaan yang mengusahakan peternakan unggas secara tradisional dan unggas, ayam dan bebek, dibiarkan berkeliaran secara bebas bergaul dengan burung-burung liar atau berbagi air dengan mereka. Terlebih lagi bebek ternak dapat menarik kedatangan bebek liar dan dengan demikian dapat menjadi rantai penularan tang berarti (WHO 2005). Keadaan ini dapat pijakan bagi virus HPAI untuk menjadi endemik. Sifat endemik HPAI di daerah tertentu akan terus menekan industri peternakan. Karena tindakan-tindakan tersebut tidak dapat dipertahankan untuk jangka waktu lama tanpa menghancurkan industri ternak unggas, atau kalau dilakukan di negara berkembang, mengakibatkan kehilangan sumber protein bagi penduduknya, maka harus dicari cara lain. Vaksinasi sudah secara luas dilakukan dalam keadaan tersebut dan mungkin dapat dijadikan sebagai upaya pendukung untuk memberantas wabah di daerah non-endemik.
Menurut Fadilah (2004), menyatakan bahwa menanggulangi penyakit ini bisa dilakukan dengan cara melakukan vaksinasi, mengisolasi farm atau peternakan yang terkena, memusnahkan semua ayam yang terinfeksi, melarang keluar masuk peralatan, orang, dan kendaraan ke daerah peternakan yang terserang AI, melakukan sanitasi (biosecurity) ketat, serta mengistirahatkan farm yang terinfeksi. Belum ada obat yang efektif untuk mengatasi penyakit ini. Upaya yang bisa dilakukan adalah memberikan pakan yang berkualitas, memperbaiki manajemen pemeliharaan, dan memberikan antibiotik spektrum luas. Upaya tersebut bisa mengurangi kerugian akibat infeksi ikutan (secondary infection).
9 langkah pengendalian penyakit AI berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Peternakan nomor 17/Kpts/PD.640/F/02/04 tanggal 7 Pebruari 2004 tentang Pedoman Pencegahan, Pengendalian dan pemberantasan Penyakit Hewan Menular Avian Influenza pada Unggas : 
  1. Peningkatan Biosekuriti
  2. Vaksinasi
  3. Depopulasi di daerah tertular
  4. Pengendalian lalulintas unggas, produk unggas dan limbah peternakan unggas
  5. Surveillance dan penelusuran (tracing back)
  6. Pengisian kandang kembali  (restocking)
  7. Stamping out (pemusnahan menyeluruh) di daerah tertular baru
  8. Peningkatan kesadaran masyarakat (public awareness)
  9. Monitoring dan evaluasi.
Dalam dunia kedokteran hewan, vaksinasi ditujukan untuk mencapai empat sasaran: (i) perlindungan terhadap timbulnya penyakit secara klinis, (ii) perlindungan terhadap serangan virus yang virulen, (iii) perlindungan terhadap ekskresi virus, (iv) pembedaan secara serologik antara hewan yang terinfeksi dari hewan yang divaksinasi (dikenal sebagai differentiation of infected from vaccinated animals, atau prinsip DIVA). Di bidang vaksinasi influensa, sampai saat ini belum ada vaksin, baik secara eksperimental maupun yang beredar secara komersial, yang dapat memenuhi semua persyaratan di atas (Lee and Suarez 2005). Tujuan pertama, yaitu perlindungan terhadap munculnya penyakit secara klinis dapat dipenuhi oleh semua vaksin. Risiko hewan yang divaksinasi untuk terkena infeksi virus virulen, dan mengeksresinya, biasanya juga dapat diturunkan tetapi tidak sepenuhnya tercegah. Hal ini dapat menimbulkan masalah epidemiologik yang signifikan di daerah endemik yang sudah mendapat vaksinasi secara luas: unggas yang sudah divaksinasi yang nampak sehat dapat juga terkena infeksi dan mengeluarkan virus liar di balik perlindungan vaksin. Efektivitas pengurangan ekskresi virus merupakan hal yang penting bagi mencapai tujuan utama pengendalian wabah, yaitu, terbasminya virus virulen di lapangan. Efektivitas tersebut dapat dikuantifikasikan dengan menggunakan faktor replikasi r0. Jika sekawanan unggas yang sudah divaksinasi terkena infeksi dan menularkan infeksinya ke rata-rata kurang dari satu kawanan lainnya, (r0 <1), maka secara matematik virus virulen tersebut cenderung dapat dibasmi (van der Goot 2005). Dalam hal vaksinasi terhadap virus H5N1 zoonotik, penurunan jumlah virus yang diekskresi berarti juga menunrunkan risiko penularan ke manusia karena untuk dapat menembus batas penghalang (barrier) antara unggas dan manusia diperlukan jumlah virus yang signifikan. Dan akhirnya, tehnik DIVA juga memungkinkan pendeteksian infeksi oleh virus liar melalui pemeriksaan serologik terhadap unggas yang sudah divaksinasi.







BAB III
KESIMPULAN


Avian Influenza (AI) atau lebih dikenal dengan sebutan penyatkit flu burung disebabkan oleh virus yang diklasifikasikan kedalam orthomyxoviruses dan memiliki tiga tipe yaitu tipe A, B, dan C. Virus ini menyerang bagian pernafasan atau sistem syaraf.
Gejala yang tampak pada ayam yang terserang penyakit ini sangat jelas,tatapi tingkat serangannya tergantung dari umur dan spesies unggas yang terjangkit. Serangan akut menampakkan gejala adanya gangguan pernapasan seperti batuk, bersin, dan terjadi sinusitis. Selain itu, menunjukan gejala seperti mata berair, badan lemah, produksi telur menurun drastis, diare, terjadi edema dibagian kepala dan muka, serta ayam tampak nervous. Penyakit ini akan menjadi lebih ganas bila diikuti dengan penyakit fowl cholera atau colibacillosis.
Pengendalian dan pemberantasan Penyakit Hewan Menular Avian Influenza pada Unggas : 
  1. Peningkatan Biosekuriti
  2. Vaksinasi
  3. Depopulasi di daerah tertular
  4. Pengendalian lalulintas unggas, produk unggas dan limbah peternakan unggas
  5. Surveillance dan penelusuran (tracing back)
  6. Pengisian kandang kembali  (restocking)
  7. Stamping out (pemusnahan menyeluruh) di daerah tertular baru
  8. Peningkatan kesadaran masyarakat (public awareness)
  9. Monitoring dan evaluasi.





DAFTAR PUSTAKA

Becker WB. The isolation and classification of Tern virus: influenza A-Tern South Africa—1961. J Hyg (Lond) 1966; 64: 309-20.

Bulaga LL, Garber L, Senne DA, et al. Epidemiologic and surveillance studies on avianinfluenza in live-bird markets in New York and New Jersey, 2001. Avian Dis 2003; 47:Suppl: 996-1001.

Capua I, Mutinelli F. Low pathogenicity (LPAI) and highly pathogenic (HPAI) avian influenza in turkeys and chicken. In: Capua I, Mutinelli F. (eds.), A Colour Atlas and Text on Avian Influenza, Papi Editore, Bologna, 2001, pp. 13-20.

Capua I, Marangon S, dalla Pozza M, Terregino C, Cattoli G. Avian influenza in Italy 1997-2001. Avian Dis 2003; 47: Suppl: 839-43.

Chen H, Deng G, Li Z, et al. The evolution of H5N1 influenza viruses in ducks in southern China. Proc Natl Acad Sci U S A 2004; 101: 10452-7. Epub 2004 Jul 2.

Fadilah, Roni dan Agustin Polana.2004.Aneka Penyakit Pada Ayam Dan Cara Mengatasinya. Agromedia Pustaka.jakarta.

Henzler DJ, Kradel DC, Davison S, et al. Epidemiology, production losses, and control measures associated with an outbreak of avian influenza subtype H7N2 in Pennsylvania (1996-98). Avian Dis 2003; 47: Suppl: 1022-36.

Ito T, Kawaoka Y, Nomura A, Otsuki K. Receptor specificity of influenza A viruses from sea mammals correlates with lung sialyloligosaccharides in these animals. J Vet Med Sci 1999; 61: 955-8.

Landman WJ, Schrier CC. Avian influenza: eradication from commercial poultry is still not in sight. Tijdschr. Diergeneeskd 2004; 129: 782-96.

Lee CW, Suarez DL. Application of real-time RT-PCR for the quantitation and competitive replication study of H5 and H7 subtype avian influenza virus. J Virol Methods. 2004; 119: 151-8.

Lees W. The 2004 outbreak of highly pathogenic avian influenza (H7N3) in British Columbia. Cahnet Bull 2004; 9: 4-10.

Lu H, Castro AE, Pennick K, Liu J, Yang Q, Dunn P, Weinstock D, Henzler D. Survival of avian influenza virus H7N2 in SPF chickens and their environments. Avian Dis. 2003; 47: 1015-21.

Mannelli A, Ferre N, Marangon S. Analysis of the 1999-2000 highly pathogenic avian influenza (H7N1) epidemic in the main poultry-production area in northern Italy. Prev Vet Med. 2005 Oct 19; [Epub ahead of print].
Marangon S, Capua I, Pozza G, Santucci U. field experiences in the control of avian influenza outbreaks in densely populated poultry areas. Dev Biol (Basel) 2004; 119: 155-64.

Murtidjo, Bambang Agus.1992.Pengendalian Hama Dan Penyakit Ayam.Kanisius.Yogyakarta.

OIE. Manual of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animals. Chapter 2.1.14. Avian influenza. http://www.oie.int/eng/normes/mmanual/A_00037.htm – Accessed 05 May 2012.

Okazaki K, Takada A, Ito T, et al. Precursor genes of future pandemic influenza viruses are perpetuated in ducks nesting in Siberia. Arch Virol 2000; 145: 885-93.

Rogers SO, Starmer WT, Castello JD. Recycling of pathogenic microbes through survival in ice. Med Hypotheses 2004; 63: 773-7.

Shortridge KF. Pandemic influenza: a zoonosis? Semin Respir Infect 1992; 7: 11-25.

Smith AW, Skilling DE, Castello JD, Rogers SO. Ice as a reservoir for pathogenic human viruses: specifically, caliciviruses, influenza viruses, and enteroviruses. Med Hypotheses 2004; 63: 560-6.

Stallknecht DE, Shane SM, Kearney MT, Zwank PJ. Persistence of avian influenza viruses in water. Avian Dis 1990a; 34: 406-11.

Stallknecht DE, Kearney MT, Shane SM, Zwank PJ. Effects of pH, temperature, and salinity on persistence of avian influenza viruses in water. Avian Dis 1990b; 34: 412-8.

Stegeman A, Bouma A, Elbers AR, et al. Avian influenza A virus (H7N7) epidemic in The Netherlands in 2003: course of the epidemic and effectiveness of control measures. J Infect Dis 2004; 190: 2088-95. Epub 2004 Nov 15.

Swayne DE, Suarez DL. Highly pathogenic avian influenza. Rev Sci Tech 2000a; 19: 463-8.

van der Goot JA, Koch G, de Jong MC, van Boven M. Quantification of the effect of vaccination on transmission of avian influenza (H7N7) in chickens. Proc Natl Acad Sci U S A. 2005;102: 18141-6.

Webster RG, Yakhno MA, Hinshaw VS, Bean WJ, Murti KG. Intestinal influenza: replication and characterization of influenza viruses in ducks. Virology 1978; 84: 268-78.

Webster RG, Bean WJ, Gorman OT, Chambers TM, Kawaoka Y. Evolution and ecology of influenza A viruses. Microbiol Rev 1992; 56: 152-79.

Whittaker G, Bui M, Helenius A. The role of nuclear import and export in influenza virus infection. Trends Cell Biol. 1996 Feb;6(2):67-71.

WHO 2005. Avian Influenza: Assessing the pandemic threat.

0 komentar:

Posting Komentar